Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2013

Mampir Sejenak ke Benteng Van Imhoff di Malam Hari

Blusukan kali ini sebenarnya merupakan rangkaian dari blusukan sebelumnya. Setelah singgah di warung tendanya pak Jenggot, kami berjalan kaki menyusuri jalan Pemuda dari Alun-alun Ungaran untuk menuju jalan raya Ungaran. Tujuan utamanya sih untuk pulang ke rumah, lha tapi karena malam itu adalah malam takbiran maka sekitar pukul setengah delapan malam sudah tidak ada angkutan umum lokal yang beredar. Bagian Depan Benteng Willem II

Mie Ayam Bakso Pak Jenggot, Spaghetti Ala Jawa

Pada tahu yang namanya spaghetti tho? Itu lho mie panjang-panjang tebal yang katanya khas makanan Italia. Ternyata di Alun-Alun Ungaran juga ada lho "spaghetti". Tapi mie tebal ini bercita rasa khas Jawa. Coba saja datangi warung tenda Mie Ayam Bakso Pak Jenggot, Alun-Alun Ungaran. Mie Ayam Bakso Di Alun-Alun Ungaran tepatnya jalan Pemuda, Mie Ayam Bakso Pak Jenggot menggelar lapak dagangannya. Warung tendanya mudah dikenali karena berada disudut belakang alun-alun dan tenda terpalnya yang berwarna oranye terdapat tulisan "Mie Ayam Bakso Pak Jenggot Alun-alun Ungaran". Sepertinya bila Anda mengunjungi warung tenda ini di saat weekend, bakalan rame, apalagi datangnya dimalam hari. Karena asli deh, saya baru pertama kali mencicipi mie ayam disini langsung jatuh hati dengan rasanya dan pengen coba lagi.

Akhirnya, Museum Palagan Ambarawa!

Setelah menyambangi dan berhasil menjelajahi Fort Willem tapi gagal memasuki Museum Kereta Api Ambarawa, akhirnya saudara-saudara sampai juga kami di Museum Palagan Ambarawa! Letaknya tidak jauh dari Museum Kereta Api. Cukup naik angkutan umum sekali lalu turun di bundaran (entah apa namanya) yang ada tank-nya sebagai monumen ditengah bundaran itu. Setelah turun dari angkutan umum, Museum Palagan Ambara sudah terlihat diseberang jalan. Gerbang Masuk Museum Untuk masuk kedalam museum, kita cukup membayar tiket sebesar Rp.5000 / orang, sama seperti di Museum Gajah. Museum ini terdiri dari museum Isdiman dan Monumen Palagan Ambarawa. Dibangunnya museum ini adalah untuk mengenang pertempuran (palagan) di Ambarawa antara TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dan rakyat Ambarawa melawan sekutu yang ketika itu masuk ke Ambarawa untuk mengambil tawanan Belanda. Ternyata tawanan Belanda dipersenjatai oleh sekutu dan membuat kekacauan di

Ingatan Yang Tersebar Tentang Kampung Halaman Bapak

Kumpulan foto dipostingan kali ini saya ambil dari URL teman-teman dari Panoramio. Tanpa sengaja browsing-browsing dan saya mengenali spot foto-foto tersebut yang mengingatkan saya pada kenangan ketika saya masih kecil dahulu saat diajak almarhum Bapak pulang ke kampung halaman Beliau. Yang Bercelana Merah adalah Alm.Bapak Saya http://www.panoramio.com/photo/14550865  (yanuar_hadiyanto) 

Terkenang November 2010: Menyamar ke Purworejo

16 November ini saya teringat tiga tahun yang lalu, tepatnya tanggal 20 November 2010. Saya pergi meninggalkan Jakarta menuju desa kelahiran Bapak saya di Purworejo, desa Ketangi. Hanya bermodalkan 300 ribu rupiah, saya nekad ke sana karena ingin sowan ke makam Bapak saya. Tahun 2008 bulan September, Bapak saya meninggal dan tahun 2010 ketika itu tepat dua tahun dua bulan kepergian Beliau. Ditahun 2010 itu pemberlakuan pemesanan tiket secara online belum seperti sekarang. Tiket penumpang tanpa kursi untuk kereta api masih berlaku. Karena saya membeli tiket beberapa jam sebelum keberangkatan, maka saya pun kebagian tiket tanpa kursi alias tidak dapat duduk. Jadilah dari rumah sudah bekal koran untuk nanti didalam gerbong duduk dibawah. Pada masa itu, kereta ekonomi tanpa AC masih ada dan namanya kereta api Progo yang berangkat dari Stasiun Pasar Senen dengan pemberhentian terakhir Stasiun Lempuyangan. Kebayang kan bagaimana rasanya tidak dapat tempat duduk dan harus merasakan perja...

Jawa Coret Ala Belut Cinta

"Belut Cinta, Ngangeniin". Begitulah motto yang diusung oleh resto Belut Cinta yang berlokasi di daerah Utan Kayu Matraman. Dengan mengangkat belut sebagai menu utama, resto ini memberikan berbagai macam olahan makanan berbahan dasar dari belut. Bahkan ditengah-tengah resto ini ditunjukkan jenis-jenis belut karena ada kolam yang isinya belut! Bagi yang jijikan tentu bakalan enggan untuk melihatnya. Oleh karenanya mending jangan melihat kolamnya karena dikhawatirkan bagi Anda yang gampang jijik gak bakal jadi makan. :D Photo by Nariyah Handayani Yang unik dari resto ini adalah gaya dan struktur bangunan restorannya. Saya jadi teringat dengan resto jeJamuran di Sleman, Jogjakarta. Rupanya resto Belut Cinta ingin membawa suasana jawa! Terlihat dari awal masuk ada papan kata sambutan "Sugeng Rawuh". Selain itu, dari meja-kursi bergaya jawa klasik dan meja lesehan khas Malioboro, kesan suasana jawa berusaha untuk ditonjolkan. Salut buat resto ini karena sekilas ki...

Jalan-Jalan Melewati Museum Kereta Api Ambarawa

Tujuan jalan-jalan kami berikutnya setelah mengunjungi benteng Pendhem adalah museum kereta api Ambarawa. Meskipun masih satu area dengan Fort Willem, tapi kami tetap memilih untuk naik angkutan umum dan turun di depan Pasar Lanang. Nama sih boleh pasar Lanang (lelaki), tapi mayoritas yang belanja tetap para ibu. :D Jalan-jalan Kira-kira kami berjalan kaki 100 meter dari depan pasar Lanang untuk mencapai Museum Kereta Api Ambarawa. Untungnya siang itu tidak terlalu panas karena langit sedikit mendung. Justru yang menjadi kekhawatiran kami adalah turunnya hujan karena kami sama sekali tidak mempersiapkan sama sekali jika hujan bakal turun nanti. Tapi perjalanan kami tetap berlanjut, menikmati semilir angin dingin yang berasal dari mega-mega mengandung bakal air hujan.

Fort Willem, Bangunan Bersejarah yang Terlupakan di Ambarawa

Menggunakan angkutan umum jurusan Ungaran-Ambarawa, kami mendatangi sebuah bangunan bersejarah  di Ambarawa. Fort Willem I atau menurut orang-orang sini lebih dikenal sebagai Benteng Pendhem atau Benteng Ambarawa. Butuh waktu sekitar 1 jam dari Ungaran. Saya tidak tahu kenapa disebut benteng Pendhem. Apakah karena pada jaman dahulu kala ketika bangunan ini baru digunakan dikelilingi oleh parit sehingga terlihat seperti bangunan yang terpendam atau bagaimana, masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab. Kami masuk dari pintu samping Bahkan, sejarah dari bangunan tua ini sepanjang saya browsing di mbah Google, saya belum menemukannya sama sekali kecuali sangat sedikit informasi mengenai awal mula pembangunannya.