Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2014

Macet dan Ramainya Jalanan 'Pasar' Malam di Kemayoran

Hidup di Kemayoran mungkin membuat saya merasa bosan dengan keramaian. Meski setiap hari melihatnya, toh saya baru kali ini menulis tentang jalanan "pasar" malam di Kemayoran. Mungkin bagi orang-orang, seperti teman-teman saya yang belum pernah ke Kemayoran, sangat menarik untuk mengunjungi pasar kaget yang hanya beroperasi dimalam hari dan paling ramai dimalam minggu dan malam senin. Dagangan Jaket di Kawasan Kemayoran Setiap hari saya melihat keramaian dipasar ini. Ada yang menjual jaket, sandal, sepatu, boneka, mainan anak-anak, baju-baju dan celana. Bagi sebagian orang, hal-hal tersebut mungkin menarik. Entahlah. Saya sendiri tidak merasa hal-hal tersebut menarik untuk dilihat. Tapi bagaimana dengan pembaca yang belum pernah ke pasar ini?

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Dawet Ireng Purworejo Ala Jakarta

Jalan-jalan pagi ke pasar Inpres kecamatan Kemayoran lumayan menemukan kepadatan yang luar biasa. Bukan hal rutin sebenarnya saya dan istri menyambangi pasar tradisional di Jakarta ini. Jadi hanya iseng-iseng belaka. Dan.. Sebelum kembali pulang ke rumah, ternyata mata istri saya rupanya jeli. Dari kejauhan dia melihat tulisan: Dawet Hitam Asli Khas Butuh, Purworejo. Dawet Ireng Versi Jakarta "Ayah, gak beli itu?", sambil menunjuk gerobak yang mangkal tidak jauh dari tempat saya berdiri selepas membeli rambutan. Tanpa basa basi, saya mendekati gerobak berwarna putih itu. "Pak, pesan dawetnya satu. Dibungkus ya."

BMG, Tidak Mengolah Data Iklim & Cuaca Tapi Mengolah Mie

Gombong, merupakan salah satu kecamatan dikabupaten Kebumen, provinsi Jawa Tengah - bertetangga dengan Purworejo. Meskipun makanan yang khas dari daerah Gombong adalah lanting dan tempe mendoannya, ternyata di Jakarta ada juga yang mempromosikan makanan khas dari Gombong. Meskipun diseluruh dunia bisa ditemukan sih, tapi saya bilang sih suka-suka mereka mau menyebut makanan ini sebagai khas mereka. Toh mungkin mereka ingin menyalurkan juga kerinduan penjualnya kepada kota kelahiran mereka dan memberikan nostalgia bagi penduduk Jakarta yang berasal dari Gombong sehingga dipasanglah nama BMG alias Bakmi Goreng Gombong yang tidak mengolah data iklim dan cuaca tetapi mengolah mie. Lha kok BMG? Harusnya kan BGG. Yaaa.. Suka-suka merekalah.. Hehehe. Mie Goreng Gombong Meracik Pesanan