Langsung ke konten utama

Dawet Ireng Purworejo Ala Jakarta

Jalan-jalan pagi ke pasar Inpres kecamatan Kemayoran lumayan menemukan kepadatan yang luar biasa. Bukan hal rutin sebenarnya saya dan istri menyambangi pasar tradisional di Jakarta ini. Jadi hanya iseng-iseng belaka. Dan.. Sebelum kembali pulang ke rumah, ternyata mata istri saya rupanya jeli. Dari kejauhan dia melihat tulisan: Dawet Hitam Asli Khas Butuh, Purworejo.

Dawet Ireng Versi Jakarta
"Ayah, gak beli itu?", sambil menunjuk gerobak yang mangkal tidak jauh dari tempat saya berdiri selepas membeli rambutan. Tanpa basa basi, saya mendekati gerobak berwarna putih itu.
"Pak, pesan dawetnya satu. Dibungkus ya."



Dengan cekatan si bapak penjual dawet hitam ini mulai meracik pesanan saya. Saya pun memperhatikan secara seksama. Pertama, ambil plastik kiloan. Lalu diciduknya dawet hitam dari dalam termos dengan menggunakan centong sayur.

Pedagang Es Dawet Hitam Manis 717 Khas Butuh - Purworejo, di Pasar Inpres Kemayoran Jakarta

Kresek Es Dawet Ireng
Sekantong Es Dawet Ireng, Rp.3.ooo
Kemudian setelah dawetnya diciduk, beralih ke stoples berisi gula cair. Diciduknya juga gula cair itu beberapa centong. Dari tempat saya berdiri, disebelah si bapak penjual, wangi gula yang sepertinya sudah dimasak dengan pandan itu dapat tercium. Berturut-turut santan dan es batu dimasukkan ke dalam plastik.

Lho? Kok tidak ada tape ketannya? Terheran-heran saya melihat racikannya si bapak.
"Pak, dawetnya asli Purworejo ya?", tanya saya penasaran.
"Iya mas. Asli mButuh, Purworejo ngulon.", jawab si bapak sambil tersenyum.

Saya pun manggut-manggut. Sepertinya yang asli Purworejo bukan dawetnya, tapi si bapak penjualnya yang asli Purworejo. Hehehe.
Gombyor-gombyor
Perwujudan Dawet Irengnya
Setelah membayar Rp. 3.ooo, saya dan istri kembali ke rumah dengan menggunakan jasa angkutan bajai biru. Di rumah, dengan segera saya mengambil mangkuk dan mulai membuka bungkusan yang tadi berisi dawet hitam. Dibuka dan byuuurrr!! Weh! Penuh banget mangkuknya. Gombyor-gombyor kalau saya bilang, karena "kuah"-nya banyak sekali.

Sruuuppuuut! Saya pun mencicipi kuahnya. Wangi memang. Manis dan agak gurih, mungkin karena santannya. Untungnya tadi saya minta supaya es batunya jangan banyak-banyak, sehingga kuahnya tidak terlalu dingin. Lalu dawetnya. Hitam pekat dan panjang-panjang. Klenyer-klenyer rasanya dan mungkin karena saat menyaring pewarnanya kurang bersih sehingga ada sisa-sisa merang yang lolos dari saringan. :D

Tak berapa lama, es dawet ireng versi Jakarta itu pun habis. Tapi ya itu... Kurang ruame dawet ireng tanpa tape ketannya. Yaaa meskipun versi kw, cukup memuaskan untuk penyegar setelah jalan-jalan.
Tetap semangat jalan-jalan bersama Mas Feb jalan-jalan...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi