Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat.
![]() |
| Foto koleksi pribadi |
Salah satu contoh obrolan adalah ketika kami terjebak macet di lampu merah dan saya mulai curhat tentang betapa membosankannya tinggal di Jakarta. Rasanya sumpek dan segalanya serba mahal, seolah oksigen pun harus berebut setiap hari, padahal bernapas itu mestinya urusan paling alamiah. Lalu obrolan melebar ke soal betapa egoisnya kebanyakan penduduk Jakarta. Mereka yang memakai kendaraan roda empat, tetapi isinya hanya satu orang, ikut-ikutan mengeluh, “Jakarta muacet!”, seakan-akan mereka sendiri bukan bagian dari penyebab kemacetan.
Belum lagi soal kendaraan roda dua yang belakangan juga terasa makin egois. Banyak yang menggunakan motor bodi lebar dengan klakson menyerupai mobil. Seakan-akan menjadi penguasa jalanan. Mereka bukan hanya memenuhi lebar jalan, tetapi juga menjadi sumber polusi suara akibat modifikasi knalpotnya. Seandainya ada “earphone” atau “headset” khusus untuk suara knalpot! Alangkah baiknya jika para penikmat knalpot bising itu menggunakan inovasi earphone knalpot di telinga mereka sendiri, sehingga cukup mereka yang menikmati suaranya, bukan satu kabupaten/kota.
Lain lagi obrolan kami ketika melihat rombongan pengantar jenazah yang konvoi dengan motor sambil mengibaskan bendera kuning. Maksudnya mungkin mereka sedang “mengawal” mobil jenazah sampai ke pemakaman. Tapi sering kali saya hanya bisa menggelengkan kepala, karena niat baik itu kadang dilakukan dengan cara yang justru mengundang cibiran di jalan. Mirip dengan fenomena yang sempat ramai di media sosial tentang kelakuan “tot tot wuk wuk” sampai muncul gerakan boikot; niatnya mungkin solidaritas, tetapi caranya membuat banyak orang jengah. Padahal setiap niat baik mestinya dilakukan dengan cara yang baik juga.
Kalau semua obrolan receh di perjalanan itu coba saya rangkum, benang merahnya hampir selalu kembali ke satu hal, yaitu perilaku. Adab, etika, dan cara kita membawa diri di ruang publik. Seolah-olah dunia makin menua, tetapi perilaku manusianya makin jauh dari identitas surga yang setiap hari kita sebut dalam doa. Kita memohon pahala agar diridhoi masuk surga, tetapi perilaku baik itu terkadang hanya bertahan beberapa detik saat kaki melangkah masuk ke masjid.
Begitu keluar, seakan bekas wudhu dan bekas sujud ikut kering tertiup angin bersama hilangnya kesadaran untuk menjaga sikap.

Komentar
Posting Komentar