Langsung ke konten utama

Mengular.. Berjejal.. Enjoy Aja Deh..

Tanggal 2 September yang lalu saya menyambangi salah satu stasiun kereta api besar di Jakarta, Setasiun Pasar Senen. Tujuannya sih ingin membeli tiket kereta api ekonomi, selain jalan-jalan karena sudah lama tidak ke sini. Tiba di TKP sekitar pukul tujuh lebih lima belas menit dan merasa sedikit limbung a.k.a jet-lag gara-gara naik bis metromini yang jalannya ngebut gak karuan.

Sewaktu tiba disana, senangnya bukan main karena saya lihat antrian di gedung loket cuma sedikit. Tapi perasaan saya mengatakan ada yang aneh karena gak biasa-biasanya antri tiket walaupun masih pagi gak antri panjang, apalagi tiket kereta api ekonomi - kereta api sejuta umat. Oaalllaaaah ternyata... Setelah saya cermati lebih lanjut,  loket yang saya lihat sewaktu tiba tadi adalah Loket Lintas Utara (terpampang bueeessaaarr!) yang tak lain loket untuk pelayanan pembelian tiket KA kelas bisnis dan eksekutif (Nah! Tulisan pemberitahuan ini kecil, udah gitu tertutup shelter loket. Kalo gak benar-benar mendekat ke loket, gak bakal kelihatan!).  Selain melayani untuk kelas bisnis & eksekutif, loket ini juga melayani
penukaran bukti bayar bagi yang membeli secara online maupun pembelian lewat agen-agen penjualan tiket KA. Makanya antriannya masih sepi.
134658921522128874
Loket Lintas Utara
13465893221626450689
Loket KA Bisnis & Eksekutif
13465893991169242976
Loket Tukar Pesanan Online
Berbeda dengan Loket Lintas Selatan yang menjual serba ekonomi dan Jabotabek. Meskipun ada 5 loket yang melayani pembelian tiket KA ekonomi dengan berbagai jurusan tujuan, tapi tetap saja antrian berjejal tidak bisa dihindari. Semakin siang antrian semakin bertambah panjang. Alhasil, saya pun membatalkan rasa senang saya dan mulai ikutan mengantri mengular hingga kira-kira 25 orang berbanjar kebelakang. Sambil mengantri, sekalian saya mengisi formulir pembelian tiket. Pikir saya daripada cuma ngantri yang pastinya bakal berasa menjenuhkan, lebih baik sekalian mengisinya.
Ada hal-hal seru selama proses saya mengantri tiket. Kira-kira setengah jam saya mengisi dikarenakan situasi darurat, tanpa meja. Setelah selesai mengisi, mulailah waktu-waktu yang menjemukan itu merambat dikepala dan pikiran pertanyaan-pertanyaan parno alias paranoid mulai bertebaran. Kira-kira bakal ngantri sampai jam berapa nih? Masih ada gak ya tiket tanggal segitu? Kalo sampai gak ada tiketnya alternatif tanggal berapa ya? dll. Selama saya mengantri, banyak celotehan dari para calon penumpang yang sedang mengantri. Dari mulai pemberlakuan hanya penumpang yang boleh masuk ke peron hingga pemberlakuan satu tiket untuk satu penumpang. Pokoknya seru dah kalo dengar obrolan mereka.
Selain itu, ada lagi kelakuan sebagian calon penumpang yang bikin senewen calon penumpang lainnya: nyerobot antrian! Ketika hal itu terjadi, seketika itu pula para pengantri bersorak: "Woooy! Ngantri doong paak! Kita dah ngantri dari pagi nih! Situ enak aja nyelak didepan. " Yang lainnya mengamini cemoohan itu. Untungnya gak sampai ada Smackdown on the street. Syukur.. syukur.
1346589539923702246
Loket Lintas Selatan
13465894951687181297
Loket KA Ekonomi
Akhirnya saya mendapatkan tiket KA ekonomi meskipun dapat tanggal keberangkatan "alternatif" setelah hampir tiga setengah jam berdiri bersama calon penumpang KA ekonomi lainnya. :)
Memanfaatkan momen setelah mendapatkan tiket, saya sempatkan untuk berkeliling sekitar gedung loket. Disekitar pintu masuk peron, baik Pintu Masuk Lintas Utara Maupun Selatan, banyak calon penumpang yang duduk-duduk bahkan ada yang menggelar tikar menunggu waktu keberangkatan KA. Sambil duduk-duduk mereka asyik ngobrol tentang segala macam. Hmm.. Salah satu obrolan yang sepertinya bikin saya merasa de javu adalah obrolan tentang peraturan baru bahwa "peron hanya diperuntukkan bagi calon penumpang yang telah memiliki karcis dan calon penumpang hanya diperbolehkan masuk peron 2 jam sebelum keberangkatan."
1346589622161248117
Mengular
13465896571527510220
Berjejal Enjoy Aja Deh
Dapat saya mengerti kenapa banyak calon penumpang menumpuk, duduk-duduk dan tiduran disekitar pintu masuk peron. Tapi namanya juga peraturan, bagi calon penumpang baiknya ditaati supaya teratur. Dan untuk mencapai keteraturan butuh kerelaan menyesuaikan peraturan baru menjadi "kebiasaan" baru. Sebaliknya bagi penyedia layanan sebaiknya juga menyediakan tempat khusus untuk calon penumpang selama menunggu masuk ke peron keberangkatan. Mengular, berjejal.. Enjoy aja deh.. Semoga kedepannya lebih baik lagi. :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi