Langsung ke konten utama

Nostalgia Masa Kecil di Sagoo Kitchen

Hari Sabtu menjadi salah satu hari yang nyantai buat saya. Libur, bisa jalan-jalan. Kebetulan jalan-jalan kali ini adalah jalan-jalan ke Bogor (lagi-lagi disini), lebih tepatnya di Botani Square a.k.a Boqer.

Jalan-jalan biasanya  tidak lengkap tanpa jajan. Namanya jalan-jalan  ya pastinya capek, lelah, laper. Setelah mengubeg-ubeg seisi mall, akhirnya kita sampai juga disebuah restoran yang kalau dilihat dari luar saja, mata dan pikiran kita bisa menyimpulkan bahwa restoran ini menarik.
Poci & Cangkir Khas
Namanya "Sagoo Kitchen". Jika kita melihat sekilas dari luar, restoran ini menampilkan suasana era 1900-an. Ketika kita masuk ke dalamnya, yang akan kita temui adalah kumpulan mainan dalam bakul, rak-rak yang berisi poci teh dan termos jadul, dan jajanan-jajanan semasa kecil (jika Anda lahir tahun 70-80an Anda pasti kenal jajanan-jajanan tersebut) mulai dari permen hingga penganan kecil.

Penganan & Jajanan Khas Era 70-80an
Mainan Kanak-kanak Era 70-80an
Permen ini Siapa Masih Ingat?? :D
Jajanan Bocah didalam Toples Kaca Jadoel
Konsepnya menarik dengan mengambil tema cina-peranakan karena kita bisa melihat ciri khas motif cina disampul buku menu dan foto-foto pemilik restoran ini dari sejak didirikan hingga sekarang. Selain itu jika kita mendongakkan kepala, kita akan melihat banyak bergelantungan kurungan/kandang burung seperti halnya kalau kita sering temukan di film-film kungfu era tahun 1980-an. Tapi jangan khawatir kotor. Kandang burung ini bersih karena memang tidak ada burung didalamnya dan memang hanya sebagai penghias langit-langit saja.


Jadoel Banget ya. Ini Buku Menunya.
Langit-Langit Resto
Setelah membolak-balik menu, akhirnya kita pesan 1 Tahoe Gondrong, 1 Mee Djawa Njemek, 1 Asem Asem Daging Sapi, 1 Ijs Tjampoer Malaka, 1 Djahe Tjang Ling, 1 Krupuk Setan/Pedas/Seblak.
Untuk Tahoe Gondrong, bentuk sebenarnya adalah tahu (sepertinya tahu cina) dipotong dadu lalu digoreng melebar dengan campuran adonan terigu. Kalau menurut saya sih, Tahoe Gondrong ini rasanya kurang menggigit dilidah. Entah diberi bumbu atau tidak, tapi yang terasa dilidah hambar alias tawar. Tidak ada rasa asin atau manis. Makanya saat penyajian Tahoe Gondrong ini disertakan dipiring sajinya satu piring kecil sambal kecap (yang sepertinya sudah dicampur dengan terasi).

Untuk hidangan utamanya - Mee Djawa Njemek dan Asem Asem Daging Sapi - boleh dibilang maknyuuusss! Mie-nya benar-benar berasa bumbunya dan tingkat kematangan mie-nya kalau menurut saya pas, tidak kurang matang dan tidak terlalu matang juga. Sedangkan Asem Asem Daging Sapinya terasa seger karena kuahnya berasa asemnya tapi tidak terlalu. Saya jadi kepengen lagi untuk makan menu yang satu ini.

Terakhir mengenai dessert-nya, Ijs Tjampoer Malaka dan Djahe Tjang Ling. Dessert yang pertama, Anda boleh membandingkan dengan es kacang merah. Di menu ini, Anda bisa menemukan kacang merah, kelapa serut, kolang kaling dan cendol hitam. Pokoknya benar-benar es campur. Sedangkan Djahe Tjang Ling, Anda boleh menyandingkan dengan wedang jahe atau wedang ronde. Cocok buat yang tenggorokannya sedang bermasalah sariawan.

Untuk kerupuknya, bagi yang tidak suka pedas mending tidak usah dicoba. Dijamin Anda bakal bercucuran keringat setelah mencoba kerupuk Setan. Tentang harga relatif murah. Tidak sampai menghabiskan 150rb kok. 1 Tahoe Gondrong 19500, 1 Mee Djawa Njemek 22500, 1 Asem Asem Daging Sapi 24900, 1 Ijs Tjampoer Malaka 18900, 1 Djahe Tjang Ling 15900, 1 Krupuk Setan/Pedas/Seblak 7500. Sehingga totalnya Rp.122.728.
Krupuk Setan
Ijs Tjampoer Malaka
Asem Asem Daging Sapi
Mee Djawa Njemek
Tahoe Gondrong
So, hari Sabtu itu lidah kita dimanjakan oleh makanan beraneka rasa: manis, asem, asin, pedas, gurih. Dan asiknya kita bisa melihat kembali makanan jajanan khas tradisional dan mainan-mainan semasa kecil.
                 
                                                                                                  #Ciputat, Banten 21 Februari 2013. 09.15


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi