Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kota Waikabubak

Waikabubak.. Ada yang tau dimana kota Waikabubak? Kota Waikabubak berada di pulau Sumba (bedakan dengan Sumbawa), propinsi Nusa Tenggara Timur. Waikabubak adalah ibukota kabupaten Sumba Barat.

Selamat Datang di Kota Waikabubak
Akhir tahun lalu saya berkesempatan menjejakkan kaki dipulau ini. Menghabiskan waktu setengah hari untuk tiba disana menggunakan jalur udara, dari Jakarta transit di Denpasar dan berganti pesawat kecil menuju bandara Tambolaka.Meskipun terbilang kecil, tapi hingga kini bandara ini masih terus dalam proses pengembangan.


Bandara Tambolaka
Perjalanan darat dari bandara ke kota Waikabubak menghabiskan waktu kurang-lebih satu jam. Perjalanan saat itu "ditemani" oleh hujan yang cukup deras. Sepanjang perjalanan, dikanan-kiri jalan terlihat tugu-tugu bersimbolkan kepala kerbau dengan tanduk panjang (bukan lambang parpol lho) yang ternyata tidak lain adalah kuburan warga setempat.

Bagi saya yang baru kali pertama berkunjung ke kota ini, kesan pertama yang saya tangkap adalah adat dan tradisi yang masih kental dan  "suasana" animisme masih terasa.

Kebanyakan penduduk asli Sumba masih menjalankan adat dan tradisi, seperti nginang, berkuda, dsb. Para wanita masih mengenakan kain khas, sedangkan para pria masih mengenakan ikat kepala serta selendang yang diikat dipinggang untuk menyelipkan parang.

Desa Adat Tarung
Kebetulan ketika di kota Waikabubak, saya sempat mengunjungi desa adat disana yang menjadi daya tarik wisata pulau Sumba. Salah satunya adalah desa adat Tarung. Atmosfer animisme didesa ini terasa sekali. Menurut keterangan dari salah seorang penduduk setempat, penduduk desa adat menganut keyakinan kepercayaan Marapu. Setiap bulan Oktober atau November penduduk adat akan melakukan ritual adat yang disebut Wulla Podu. Wulla berarti bulan, dan Podu berarti pahit. Jadi Wulla Podu adalah bulan pahit (berpuasa atau keramat) dimana penduduk melaksanakan ritual adat ini kurang lebih seperti bulan puasa dalam Islam yang berlangsung selama satu bulan.
Salah Satu Pemandangan di Waikelosawa
Selain mengunjungi desa adat, saya juga mengunjungi objek-objek menarik lainnya seperti sumber air (yang dijadikan sebagai pengairan dan pembangkit listrik) Waikelosawa dan pantai-pantai berpasir putih, salah satunya pantai Rua.

Pedagang Sate Ayam di Perempatan Jalan Ahmad Yani
Selama tiga hari di kota Waikabubak, yang dirasakan sangat sulit adalah mencari warung makan dan mencari oleh-oleh khas Sumba. Khasnya disana adalah ikan laut yang masih segar digoreng dan disantap dengan lalapan dan sambal khas Sumba. Lalapan disini berbeda karena ada kacang panjangnya. Sambalnya kurang lebih sama dengan sambal terasi tetapi dengan tambahan kecap. Sehingga sambalnya agak cair tetapi memiliki cita rasa yang luar biasa nikmat.

Untuk oleh-oleh khas Sumba, Anda bisa membeli kain-kain tenun khas yang harganya mulai dari 50 ribu hingga berharga jutaan rupiah. Iseng-iseng saya jalan-jalan sendirian ke jalan Ahmad Yani dan ternyata disana banyak pedagang kain yang menggelar dagangannya diemperan toko.

Discover Sumba Amazing and Exotisch Exotic
Salah Satu Pantai di Lamboya
Pedagang Kain Tradisional Sumba
Waaaaaaaaaaa .. ikelosawa!!!
Pemandangan di Pantai Rua
Kampung Nelayan di Pantai Rua
Cakrawala di Pantai Rua

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi