Langsung ke konten utama

Soto Kaki Sapi Mencos, Makan Tanpa Pesan

Iseng-iseng jalan ke daerah Salemba Tengah karena dengar bisik-bisik tetangga, katanya ada tempat makan yang agak nyeleneh didaerah ini. Lokasinya sih berpatokan pada sebuah masjid besar. Menurut informasi yang saya dapat, letaknya persis diseberang masjid dan tidak jauh dari mencos alias pertigaan Salemba Tengah.

Kalau dari arah jalan Salemba Raya, masuk saja ke jalan Salemba Tengah mengikuti rute angkot 04 jurusan Rawasari. Warung Soto Kaki Sapi ini ada disebelah kanan jalan.

Sedang Meramu Soto
Ketika Anda pertama kali melihat warungnya, mungkin respon Anda bakal sama seperti saya: "Tempat makan apaan nih?", sambil mengernyitkan dahi. Yaaa, wajarlah. Warung ini tidak ada plang namanya. Pertama kali Anda datang, yang Anda lihat adalah kumpulan meja-kursi, etalase si pedagang soto dan tudung bambu yang sudah usang serta berwarna kehitaman. Tapi Anda bakalan terkejut tak lama setelah Anda duduk.

Hidangan Utama
Terserah Anda mau duduk dimana saja (asalkan didalam area warung itu), tak lama kemudian Anda akan ditanya pelayan warung mau minum apa. Lalu, bersiaplah untuk terkejut karena ketika kita makan disebuah rumah makan atau warung biasanya Anda akan ditawarkan list menu dan kemudian Anda memesan makanan yang Anda inginkan. Tapi berbeda dengan warung atau rumah makan ini. Anda bakal disuguhi dengan hidangan Soto Kaki Sapi terlebih dulu tanpa perlu kita pesan. Saya bilang ke partner saya: "Rekor nih! Padahal kita belum pesan dan duduk juga belum lama, tau-tau makanannya sudah dateng". Mungkin karena menu dari warung makan ini cuma satu: Soto Kaki Sapi, jadi kita tidak perlu pesan.

Setelah mengetahui cara pelayanannya, saya jadi penasaran dengan rasa dari soto ini. Apakah se-mengejutkan pelayanannya atau lebih mengejutkan?

Soto Kaki Sapi
Dari tampilan sotonya sih boleh saya bilang terlalu kental santannya. Setelah diicip kuahnya, menurut saya rasanya biasa saja dan kurang nendang. Tapi kalau menurut partner saya, soto ini lumayan berani dengan bumbunya walaupun menu yang disajikan sebenarnya sederhana. Ya, itulah selera. Setelah menyantap soto dan membayar (dengan mahal pula- bila dibandingkan dengan makan di Bebek Kaleyo), tidak lama kemudian suasana warung mulai ramai dengan pengunjung.

Salah Satu Pengunjung Warung

Yang membuat saya terheran-heran yaitu pengunjung warung yang sederhana ini datang dengan mengendarai mobil pribadi seperti sedan, minibus dan sejenisnya! Nah, kira-kira apanya yang istimewa ya? Silakan Anda datang ke Salemba Tengah dan cicipi Soto Kaki Sapi-nya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi