Langsung ke konten utama

Ramainya Nasi Bebek Tugu Pahlawan Surabaya

Karena penasaran dengan rasanya yang katanya enak, saya dan rekan pun 'menyasarkan' diri sore itu di Surabaya. Bukan tanpa alasan saya menyebut perjalanan kali ini sebagai menyasar karena saya dan rekan memang benar-benar buta dengan area wisata di Surabaya. Bahkan rekan saya yang pernah ke Surabaya pun masih bingung. Apalagi saya, yang dahulu pertama kali ke Surabaya hanya bergentayangan di Stasiun Pasar Turi.


Dapat info dari temannya rekan saya, katanya ada Nasi Bebek Samping Tugu Pahlawan yang rasanya enak. Setelah saya dan teman saya menyasar ke Kia Kia, daerah jalan Kembang Jepun, kami pun naik angkot menuju Tugu Pahlawan dengan modal nekat dan petunjuk dari penumpang serta sopir angkot yang kami tumpangi.

Bungkus di Belakang
Begitu tiba di TKP, agak-agak jeri juga sih saya lihatnya karena antriannya kagak nahaaaan penuhnya. Malah si penjual menggantung papan petunjuk: "Bungkus di Belakang". Hmm... Berarti emang setiap warung tenda ini buka, kayaknya selalu rame seperti ini. Jadi makin penasaran dengan rasanya. Apakah senikmat dan seenak berita yang beredar?

Si Bapak Penunggu Penggorengan Sekaligus Yang Menggoreng Daging Bebek
Dari papan harga yang penjual pajang, mereka menawarkan paha super, paha biasa, dada, protolan, dan jeroan. Sementara rekan saya pesan makanan, saya harus nge-tag tempat duduknya dulu supaya tidak di-"jajah" oleh konsumen lain.

Es Kelapa
Akhirnya kami pesan dua nasi bebek plus satu piring nasi ekstra dan dua gelas es kelapa. Diicip-icip, yang saya rasakan dari nasi bebek ini adalah bumbunya (termasuk serundengnya) dan sambal yang terasa dominan. Mereka berani "bermain" di bumbunya sehingga terasa banget. Sedangkan sambal, seperti sambal terasi khas surabaya pada umumnya. Untuk ke-empukan dari daging bebeknya saya bilang sih standar.

Setelah tandas kami sikat itu menu, saya baru menyadari. Meskipun saya sudah mencuci tangan, ternyata amis dari daging bebek masih saja melekat. Saya mengira-ngira mungkin karena tidak pakai sabun karena hanya sekedar cuci tangan dikobokan. Tapi ternyata memang amis daging bebeknya awet alias susah hilang. Bahkan setelah saya tiba ditempat kami menginap dan mencuci tangan menggunakan sabun pun, bau amisnya belum hilang.

Secara keseluruhan, menurut saya patut dicoba lah bagi penyuka petualangan kuliner. Apalagi setelah makan nasi bebek ini, saya dan rekan benar-benar mempraktekkan apa yang dinamakan "jalan-jalan" yang benar-benar ber-jalan kaki dari Tugu Pahlawan hingga ke tempat kami menginap. :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi