Langsung ke konten utama

Warna-Warni dalam Bis di Terminal Kampung Rambutan

Pengalaman yang gak bakal terlupakan.. Beneran dan ini serius! Habis pulang kondangan di daerah Cibubur dimana perjalanan pulang menggunakan sarana transportasi umum dan harus 'mampir' dulu Terminal Kampung Rambutan. Lumayanlah ketika itu cuaca tidak terlalu panas, akan tetapi terasa suangat panas. Sepertinya air yang mengguyur dan membasahi bumi hanya menguap seketika ketika titik-titik air itu menyentuh aspal panas jalanan. Jakarta oh Jakarta..

Berdesakan antara penumpang dengan pedagang
Terminal Bis Kampung Rambutan
Kembali ke Terminal Kampung Rambutan. Disini saya berniat naik bis patas tapi ya ndilalahnya kok meskipun bisnya sudah nongkrong di terminal tapi isi bis masih sepi penumpang. Terpikir dan bertanya dalam hati, kiranya kapan bis ini bakal berjalan? Demi menghibur hati, jadilah saya duduk dan memperhatikan sekeliling Terminal Kampung Rambutan dari dalam bis melalui jendela yang saya buka lebar-lebar.


(dok.tatangmanguny.wordpress.com)
Lukisan Jaman hindia belanda. Si opas lagi nenggak nira (dok.tatangmanguny.wordpress.com)
Ada yang perhatikan? Wajah si Abang Penjual Nira mirip dengan Wajah Penjual Nira di Lukisan Gambar Sebelumnya. Apakah pelukisnya memang menggambar si Abang Penjual Nira yang ini? (dok.tatangmanguny.wordpress.com)

Jeprat-jepret sana-sini dengan kamera saku saya dan hasilnya mengenaskan. Menurut saya sih mengenaskan dan menyedihkan karena namanya ibukota sebegitunya mencari kerjaan untuk bertahan hidup. Bayangin aja jaman sekarang masih ada orang di ibukota Jakarta yang memikul air untuk mendapatkan rupiah. Saya pernah melihat-lihat foto-foto jadul jaman hindia belanda. Ya gak jauh bedalah dengan yang ada sekarang. Pemikul air, pengangkut barang (karung), pengemis dan lain sebagainya.

Bilangan tahun boleh berganti tapi ternyata kehidupan tetap sama dari hari ke hari.
Harry "Porter" and The Kampung Rambutan

Pengamen atau Penyindir?
Cukup lama juga saya menunggu hingga isi bis full dengan penumpang. Ketika bis sudah hampir penuh, ternyata banyak "iklan" yang lewat. Ada pengamen yang menyindir-nyindir penumpang supaya penumpang memberi uang, ada peminta-minta yang "mengancam" penumpangnya, pokoknya banyak deh. Ibarat makanan disini gado-gado! Tapi yang paling sering sih pedagang yang menawarkan barang sambil lalu. Contohnya, ada pedagang yang menawarkan plaster batik, minuman, alat cukur kumis, sendok telinga berlampu, tukang kopi, tukang permen, tukang rokok, tukang pulpen. 
Kang Air
Plaster dan Pengasah Pisau Portable
Iklan Pencukur Kumis dan Sendok Telinga Berlampu.
Kang Kopi
Berdesakan antara penumpang dengan pedagang
Dari semua pengalaman selama berada didalam bis di Terminal Kampung Rambutan, yang saya rasakan adalah warna-warni. Bukan warna-warni warna, tapi warna-warni suasana. Pesan saya kalau Anda suatu hari secara gak sengaja dan terpaksa harus menghampiri Terminal Kampung Rambutan, maka waspadalah! Jangan terhenyak dengan keramaian yang ada. Jadi, kiranya benarlah sebuah pepatah yang mengatakan: Ibukota lebih kejam daripada nenek lampir.

Bilangan tahun boleh berganti tapi ternyata kehidupan tetap sama dari hari ke hari.

Komentar

  1. Baru dengar pepatah ibukota lebih kejam dari nenek lampir.. penulis mensitasi darimana ?? mohon diberikan referensinya ?? agar pembaca tidak tersesat sampai kampung rambutan..

    BalasHapus
  2. Itu juga harusnya jangan tersesat sampai kampung rambutan.. Komentator mensitasi dari mana? Seharusnya tersesat cukup sampai lubang buaya.. :P

    BalasHapus
  3. salam kenal mas, blognya seruuu ... aaah jadi inget, aku juga beli tuh plester itu, suka aja motif batiknya...

    BalasHapus
  4. kampung rambutan dari dulu tetep aja begini2 .. sudah ganti presiden ber-kali2 ... tetep konsisten . hehe .. coba ikuti PJKA .. yang bisa rapi, bersih dan teratur ..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi