Langsung ke konten utama

Senen - Lebak Bulus, Naik Kopaja P20 AC

Terminal Pasar Senen, pagi itu sekitar jam 7, menunggu bis tujuan Ciputat. Kok ya gak datang-datang ya? Padahal sudah berpeluh, keringat mengucur deras menunggu hingga hampir saja leher ini memanjang dan kulit mengerut karena harus melongok, melihat ujung terminal dan mengernyitkan kening serta menajamkan pandangan. Tapi bis besar AC yang ditunggu pun tidak kunjung datang.

Akhirnya diambil alternatif karena melihat antrian panjang bis hijau dengan jurusan Senen-Lebak Bulus. Hmm.. Sepertinya bisa menggunakan bis alternatif ini. Yup, saya pun menggunakan angkutan baru yakni Kopaja P20 AC jurusan Senen- Lebak Bulus. Sekilas ketika memasuki bis 3/4 ini, saya seperti melihat bagian dalam bis Transjakarta tapi yang ukuran mini. Kalau saya kira-kira, mungkin bis baru ini keluaran produsen yang sama dengan yang memproduksi bis Transjakarta. Hal ini bisa terlihat dari bentuk kursi-kursi, pegangan atas untuk penumpang dan pintu otomatis hidrolik.

Pengamen.
Setelah naik, saya memilih kursi yang terletak dibelakang karena saya pikir bisa melihat lebih leluasa ke seluruh bagian dari posisi itu.
Kursi Penumpang Mirip Kursi Busway
Meskipun interior sudah ekslusif dan agak mewah, tetapi masih ada ciri angkutan umum yang tetap tidak bisa hilang yaitu: adanya pengamen. Selama bis masih menunggu penumpang penuh, maka selama itu pula pengamen mendendangkan lagu-lagunya.

Satu hal yang unik dan perlu dicatat adalah adanya bioskop mini. Kenapa saya sebut bioskop mini? Karena jika Anda beruntung suatu kali menggunakan angkutan Kopaja ini, Anda bisa menonton film yang diputar oleh si supir di TV flat dibagian depan. Sayangnya saya tidak sempat mendokumentasikan fotonya karena agak penuh ketika film diputar. Biasanya ketika bis mulai keluar dari terminal, maka film pun dimulai. Saya beruntung ketika itu bisa menyaksikan film Ip Man. :D

Saya membayar sebesar Rp. 5000 untuk dapat menggunakan angkutan umum ini. Ya lumayan murahlah dengan fasilitas dan kenyamanan yang diberikan. Jadi, tertarik untuk mencoba?
Tetap semangat bersama mas Feb Jalan-Jalan.. :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi