Langsung ke konten utama

Pasar Inpres Kecamatan Kemayoran, Riwayatmu Kini

Sejak masih dalam buaian ibu hingga saya sudah besar sekarang, ternyata pasar tradisional ini tidak berubah. Terletak dijalan Serdang, pasar yang dikenal juga dengan PIS (Pasar Inpres Serdang) ini menjadi salah satu pasar tradisional andalan bagi warga sekitar Kemayoran yang ingin membeli kebutuhan pangan. Sebenarnya bukan hanya kebutuhan pangan, tetapi juga alat perkakas rumah tangga seperti alat-alat memasak. Pokoknya segala macam kebutuhan ibu-ibu yang berkaitan dengan dapur ada disini.

Jalan Serdang Samping Pasar
Selain alasan kelengkapan barang-barang yang dijual, posisi pasar yang bersebelahan dengan kantor camat dan puskesmas kecamatan Kemayoran juga menjadi alasan para ibu ikut "meramaikan" pasar ini. Saya masih ingat ketika kecil dulu saat saya sakit. Ibu biasanya memeriksakan saya ke dokter di puskesmas kecamatan ini karena selama menunggu giliran nama saya dipanggil untuk diperiksa, ibu bisa sekalian membeli kebutuhan pangan seperti sayur dan bahan-bahan lauk pauk yang nantinya akan dimasak dirumah untuk makan sekeluarga. Selain itu ada hal lain yang membuat saya sedikit terhibur dan melupakan rasa sakit yang dirasa, yaitu mainan. Ya! Karena disepanjang pinggiran jalan pasar ini banyak sekali penjual mainan dan penjual ikan hias. Pastinya akan membuat anak-anak senang ketika dibelikan mainan saat diajak ke pasar.

Interaksi Penjual-Pembeli
Umbi-Umbian
Hingga kini pasar tradisional ini masih bertahan meskipun pasar modern dan pasar swalayan makin menyeruak. Ada beberapa alasan yang membuat pasar tradisional seperti Pasar Inpres Kecamatan Kemayoran menjadi icon kerakyatan dan menurut saya menjadikan pasar tradisional ini unggul daripada pasar modern dan swalayan. Pertama, tawar menawar masih bisa kita temui dipasar ini. Berbeda dengan pasar swalayan yang sudah mematok harga tanpa bisa ditawar lagi karena setiap barang yang dijual sudah diberi label harga. Hal kedua, saling percaya antara penjual dan pembeli masih nyata. Banyak penjual yang akrab dengan pembeli karena memang setiap harinya selalu berinteraksi sehingga saling percaya dan kenal mengenal (silaturahim) antara penjual dan pembeli masih ada. Berbeda dengan swalayan dan supermarket, siapa pemilik dan penjualnya, pembeli tidak tahu atau bahkan saling masa bodoh. Ketiga, saking tingginya rasa saling percaya antara penjual-pembeli sehingga ketika pembeli lupa membawa uang pun, pembeli bisa hutang dulu dan bayar esok harinya! Inilah yang saya maksud icon kerakyatan. Bayangkan jika Anda belanja di supermarket, mungkin Anda akan diseret satpam keluar dan bisa jadi menjatuhkan harkat dan martabat Anda sebagai konsumen. Masih banyak hal-hal lainnya yang membuat pasar tradisional menjadi ciri khas kerakyatan dan mungkin Anda, yang pernah blusukan dan belanja di pasar tradisional merasakannya juga.

Bukan Hanya Pangan, tapi Juga Sandang
Parkir Motor
Perkakas Rumah Tangga
Buah-Buahan
Hamparan Sampah
Yang menjadi keprihatinan saya terkait pasar tradisional adalah manajemen lingkungan. Dari jaman orde baru hingga sekarang, masalah sampah dan penanganannya masih belum bisa diatasi. Disalah satu sudut Pasar Inpres Kecamatan Kemayoran masih bisa ditemukan hamparan sampah-sampah yang berantakan. Menjadikan pikiran saya bertanya-tanya. Apa fungsi biaya kebersihan yang setiap bulannya dibayarkan oleh para penjual dipasar ini? Apakah hanya biaya angkut tanpa pembenahan manajemen sampah pasar? Entahlah...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi