Langsung ke konten utama

Menggapai Puncak Nirwana, Traekking Candi Gedong Songo di Gunung Ungaran

Saya jadi teringat tentang komik yang dibuat oleh seorang maestro komik Indonesia, alm. Teguh Santosa. Dalam salah satu episode seri Mahabharata-Bharata Yudha, diceritakan Pandawa dan Drupadi pada masa akhir pemerintahan mereka menyepi ke gunung Mahameru dan mendaki untuk menggapai nirwana. Judulnya saya masih ingat: menggapai nirwana.

Candi Gedong I
Mungkin kira-kira tracking Candi Gedong Songo di Gunung Ungaran itu seperti cerita para Pandawa yang mendaki gunung Mahameru untuk menggapai nirwana. Kami perlu berusaha keras untuk mencapai candi tertinggi dari candi-candi yang lainnya.


Berpose dulu di Candi Gedong I
Untuk masuk ke kawasan wisata Candi Gedong Songo, kita diharusnkan membayar biaya tiket masuk sebesar Rp.5000 per orang. Bagi yang ingin membeli suvenir maupun oleh-oleh khas Gedong Songo seperti kaos-kaos, gantungan kunci dan topi, bisa dibeli diarea dekat parkiran. Banyak sekali yang berdagang disini. Retribusi parkir seperti biasa sebesar Rp. 2000.

Disarankan bagi Anda yang tidak kuat udara dingin untuk memakai jaket jika berwisata kesini dan jangan lupa bawa payung portable alias payung lipat karena sewaktu-waktu disini bisa turun hujan.

Jalan Terdekat ke Candi Gedong II diblokir
Jalan Memutar yang Menanjak Menuju Candi Gedong II
Setelah kita melewati gerbang masuk kawasan wisata, kita langsung disambut oleh bangunan candi Gedong I yang dibangun sezaman dengan candi-candi di kompleks percandian Dieng. Dari arca-arca yang terlihat, candi ini adalah candi Hindu.

Setelah menilik candi Gedong I, maka kita harus berjalan menanjak menuju candi Gedong II. Entah karena alasan bisnis atau apa, dari pengelola menutup jalan tengah yang jaraknya bisa lebih dekat menuju candi Gedong II. Sehingga bagi yang tidak mau membayar untuk bisa lewat jalan pintas ke candi Gedong II, maka mereka harus melewati jalan memutar yang tentunya lebih jauh dan menanjak pula. Tapi jangan khawatir bagi Anda yang tidak membawa bekal minum, karena sepanjang jalan menanjak banyak penjual makanan dan minuman.
Perkebunan Cabai 
Pemandian Air Panas
Berlainan dengan jalan menuju candi Gedong II dan III, untuk menuju candi Gedong IV dan V kita harus menuruni dan menanjaki jalan setapak. Berhati-hati dan waspada perlu ditingkatkan disini karena saya pun mengalami hampir terpeleset pasir yang terdapat dijalan setapak. Saat menuju candi tertinggi ini, kita pun melewati pula pemandian air panas. Dari kejauhan dapat terlihat kebul uap air panasnya.

Candi Gedong V
Pemandangan dari Puncak
Jika kita sudah mencapai puncak tertinggi, yakni candi Gedong V dan reruntuhan candi Gedong VI dan VII, kita bisa melihat Rawapening dari sini. Filosofi yang bisa didapatkan dari tracking menggapai puncak nirwana adalah bahwa untuk mencapai puncak tujuan, kita perlu bekerja keras, berpeluh, tersengal-sengal dan bahkan terasa berat. Perlu usaha keras untuk mencapai tujuan dan setelah kita mencapai puncak berhati-hati untuk menuruni karena jika tidak berhati-hati menjalani jalan menurun, kita bisa terpeleset dan langsung menuju tempat paling dasar. Nah, itu menurut saya. Kalau menurut Anda kira-kira pelajaran apa yang bisa diambil dari mendaki puncak? Tetap semangat jalan-jalan bersama Mas Feb Jalan-Jalan.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi