Langsung ke konten utama

DOKAR -Donat Bakar Kemayoran

Ada-ada saja kuliner akhir-akhir ini. Dengan menggunakan nama yang sekiranya menimbulkan tanda tanya dipikiran orang-orang, diharapkan dapat menarik pembeli.

Donat Bakar Co-Duri (Coklat Durian)
Donat Bakar Kaki Lima
Salah satunya ada di Kemayoran dekat polsek. DOKAR atau Donat Bakar merupakan nama produk yang dijual oleh pedagang kaki lima sekaligus menjadi menu jualan mereka. Tapi apa memang benar dibakar? Setelah melihat sendiri, saya jadi tahu. O ternyata...


Dibakar Di Permukaan Teflon
Donatnya kalau menurut saya donat biasa dan rasanya pun biasa. Yang beda adalah cara menghangatkannya. Lho kok dihangatkan.? Iya. Sebenarnya donat yang dijual adalah donat yang sudah siap saji hanya saja belum diberi topping. Nah, untuk membuatnya hangat, maka dibakarlah donat itu menggunakan teflon alias panci anti lengket. Setelah kira-kira cukup warna pola bakarannya atau agak kecoklatan, lalu diangkat dan atasnya diberi topping beraneka rasa. Ada rasa durian, jagung, strawberry, dan lain-lain varian rasanya.

Varian Rasa dan Harganya
Kemasan Bungkusnya

Mungkin kelebihannya disitu. Jadi kita seolah-olah merasakan donat hangat yang baru, fresh from the teflon. Dengan topping yang beraneka rasa dan kita bisa memilih sesuka kita, menjadikan Dokar lebih variatif toppingnya dibandingkan donat-donat bermerk yang ada dimall-mall di Indonesia.

Tetap semangat jalan-jalan bersama Mas Feb Jalan-Jalan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi