Langsung ke konten utama

GrontoL, (NostalgiLa) Jajanan Jaman Bocah

Kalau jaman kecil saya dahulu, jajanan masih belum banyak seperti sekarang. Jaman sekarang kalau mau jajan tinggal cari mart-mart yang banyak menjamur dijalan-jalan utama kota-kota di Indonesia. Kalau jaman dahulu, jajanan ketika itu masih bisa dihitung dengan jari dan harus nunggu ada yang lewat depan rumah. Atau kalau memang benar-benar niat musti nyari dulu jalan kaki atau bersepeda, terkecuali penjual jajanan sudah biasa mangkal dijam-jam dan tempat tertentu.

Bagi yang lahir ditahun 80-an pasti tahu makanan tradisional seperti cenil, tiwul, kue pancong, grontol, dan lain sebagainya.

GrontoL
Kali ini saya secara tidak sengaja menemukan di Jakarta ini masih ada penjual grontol keliling menggunakan gerobak. Pada mulanya, saya hanya ingin mengisi bahan bakar untuk sepeda motor saya. Lalu tiba-tiba saya terpikir untuk membeli frame foto untuk seseorang karena sepengetahuan saya frame-frame yang dijual disebuah toko digital printing dijalan Bendungan Jago Raya harganya masih setengah harga frame di toko-toko besar di mall Jakarta.
Taburan Kepala Parut dan Gula Pasirnya
Saat masih menunggu giliran untuk pelayanan pembeli, lewatlah si pedagang grontol didepan toko. Dengan mendorong gerobak, si abang penjual penganan tradisional berbahan jagung pipil ini berpenampakan layaknya pendekar. Dari mulai ujung kepala hingga ujung kaki. Bertudungkan topi caping berwarna biru kusam, si abang memberikan harga Rp. 3.ooo per porsi. Satu porsinya adalah se-ukuran sedang plastik mika.

Sendoknya Tetap Menggunakan Janur
Ada yang menarik dari jajanan ini. Dari penampilan makanan, jelas terjadi peralihan tempat saji makanan. Saat saya masih bocah dahulu, pedagang grontol keliling menggunakan gerobak dorong dan menyajikan grontol menggunakan alas daun pisang yang sudah dibentuk kerucut berdiameter lebih lebar dari tingginya alias ceper. Terkadang juga grontol ini disajikan oleh penjualnya menggunakan alas daun pisang yang dibentuk seperti bentuk perahu. Tapi sekarang tempat sajinya sudah menggunakan plastik mika.

Bentuk Sajian Grontol Jaman Dulu Ya Seperti Ini (Sumber Gambar: Google+ Sabrina Athoillah)
Yang tak berubah selain sendoknya yang masih menggunakan daun janur, tentu saja penganannya sendiri. Tampilan tradisional tetap memberikan cita rasa tersendiri bagi yang pernah merasakan jajajan grontol dijaman baheula. Jagung pipil yang sudah direbus tersebut ditaburi dengan kelapa parut dan gula pasir. Meskipun rasanya biasa saja, tapi nostalgila-nya itu lho. Tetap semangat jalan-jalan bersama mas feb jalan-jalan.


Komentar

  1. Makan grontol temannya itu thiwul dan gatot, nyam!

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan lupa sama teh poci hangatnya. hehehe (c)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi