Langsung ke konten utama

Es Si UnyiL, Es Potong Jajanan JadoeL

Meskipun es ini sudah kita beli dari penjualnya, tetap saja disebut es si Unyil, bukan es si Mas Feb atau es si Bambang. Padahal sudah kita bayar, tapi namanya ya tetap saja esnya si Unyil.

Bagi generasi 80-an pasti ngeh dengan nama Es Si Unyil. Jajanan jadoel ini ngetop banget dimasa saat-saat dimana mart-mart belum bertebaran di seantero Indonesia. Es potong sederhana ini menjadi primadona dijamannya untuk kemudian tergusur dengan es krim-es krim perusahaan besar yang bentuk, rasa, merk dan jenisnya bermacam-macam.

Es Si Unyil
Saya mengira es potong ini sudah punah dan tidak beredar lagi. Tapi ternyata saya menemukannya kembali dijual didekat rumah saya. Es Si Unyil ini masih dijual bebas di Kemayoran. Saya sudah lupa apakah bungkusnya masih sama seperti yang dulu ataukah gambarnya sudah gambar baru. Yang jelas es potong jajanan jadoel ini merknya tetap sama: Es Pelajar Si Unyil. Cuma kok ya gambar si Unyilnya agak-agak menyeramkan.


Rasa Kacang Hijau
Kemasan es Unyil ini dari dulu sampai sekarang saya menemukannya kembali masih sama. Panjang-panjang berbungkus plastik serupa bentuk sosis. Cara penyajiannya juga sama, es yang masih berbentuk panjang dipotong seukuran panjang jari telunjuk orang dewasa lalu ditusuk dengan lidi atau tusuk gigi. Kalau dulu tusuknya dari bambu yang diolah potong oleh si penjualnya.

Soal rasa, kalau menurut saya rasanya lebih enak dan lebih gurih daripada es goyang. Teksturnya lembut karena dibuat dari campuran santan. Berbeda dengan es goyang yang masih terasa seperti air yang dibekukan. Kalau tidak salah ingat, dahulu es potong ini dihargai sebesar Rp. 5oo. Sekarang di tahun 2014, es potong sepanjang jari telunjuk orang dewasa dihargai sebesar Rp. 2.ooo.

Kangen dengan es potong alias es Unyil? Coba saja datang diwaktu sore ke Kemayoran didekat Masjid Akbar Kemayoran. Jadoel never die. Tetap semangat jalan-jalan bersama Mas Feb Jalan-Jalan.

Komentar

  1. Ah, saya juga kangen dengan es kacang ijo semacam ini. Dulu saya pernah makan, tapi lupa apakah merknya Unyil atau bukan. Yang jelas, es ini ditempatkan di dalam termos es/nasi saat hendak dijajakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ke Kemayoran Jakarta mas. Banyak yg jual nih.
      Di Jogja sudah tidak ada yang jual es potong kyk gini ya mas? Bisa jadi lahan bisnis tuh mas. Hehehe.. :d

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi