Langsung ke konten utama

Petualangan Panjang Menuju Kota Purworejo

Setelah selesai melakukan tugas perjalanan dinas dari kantor di Banjarnegara, saya melanjutkan perjalanan menuju Wonosobo. Niatnya sih sambil menyelam minum air, mumpung tugas dari kantor sudah selesai sekalian lah jalan-jalan sekaligus mengunjungi makam Bapak saya di desa Ketangi, Purworejo mumpung dekat. Berbekal informasi dari website dan bertanya-tanya kepada warga sekitar, saya melakukan perjalanan dari Banjarnegara ke Wonosobo untuk kemudian menuju kota Purworejo. 

Pemandangan dari dalam Bis
Dari Banjarnegara, saya naik mikro bis jurusan Banjarnegara - Wonosobo. Karena memulai perjalanan dari hotel Garuda Banjarnegara sekitar jam 6.30 pagi, maka saya pun harus rela berdesakan  didalam bis dengan anak-anak sekolah dan para pedagang yang akan pergi ke pasar. Tapi saya pikir ramainya penumpang didalam bis ini tidak separah ramainya penumpang bis di Jakarta. Saya yang sudah merasakan betapa neraka jahanamnya berdesakan dan berjubel didalam bis di Jakarta masih dapat berucap: 'untung tidak terlalu berjubel seperti di Jakarta'. Saya nikmati perjalanan itu meski sudah membayar Rp. 7.000 tapi harus berdiri dari Banjarnegara hingga terminal Wonosobo yang menghabiskan waktu kurang-lebih 1 jam.

Singkat cerita tibalah saya di Terminal Mendolo Wonosobo,  pemberhentian terakhir bis Banjar-Sobo ini. Setelah turun dari bis, saya harus mencari dahulu mikro bis jurusan Wonosobo-Purworejo. Menurut keterangan yang saya dapat dari internet, saya harus mencari mikro bis yang dimaksud diluar terminal karena bis Sobo-Purjo enggan masuk ke dalam terminal Mendolo. Dari kejauhan saya sudah dapat mendengar teriakan 'Sobo-Purjo' dari sang kondektur. Segera saya naik bis yang berwarna ungu tersebut. 

Suasana didalam Bis
Depan Plaza Purworejo (Jalan Veteran)
Saya melihat sekilas jam tangan saya menunjukkan pukul 7.39. Bis Sobo-Purjo ini pun tak lama menunggu penumpang didepan terminal Mendolo. Setelah beberapa menit saya duduk dibangku penumpang, bis ini pun melaju menyusuri jalan. Sepanjang perjalanan, banyak pemandangan alam yang bisa dijadikan sebagai obat penyegar mata dan otak. Udara pagi itu benar-benar bikin plong pernapasan saya yang hampir tiap hari merasakan kemacetan dan udara kotor di Jakarta. 

Perjalanan dari Wonosobo-Purworejo ini sebenarnya adalah perjalanan yang banyak menghabiskan waktu. Padahal bis ini hanya berhenti 3 kali di 3 tempat berbeda, yaitu di terminal Sapuran, didepan SDN 1 Kepil, dan disebuah pertigaan jalan masuk desa (entah namanya pertigaan apa). Tapi yang membuat bis ini menjadi lama adalah waktu menunggu penumpang di 3 tempat tersebut dan banyaknya perbaikan jalan. Oleh karenanya butuh kesabaran bila naik bis ini.

Salah Satu Sudut di Trotoar Jalan Ahmad Yani
Pemberhentian Terakhir Saya di Kota Purworejo
Hampir tiga jam saya duduk didalam bis dari terminal Mendolo hingga tiba di Plaza Purworejo sekitar pukul 10.15. Setibanya di Purworejo, yang saya cari pertama kali adalah air minum. Maklum selama perjalanan didalam bis tidak satu pun pedagang yang menjajakan air minum dan saya juga lupa tidak membawa bekal minum. 

Mumpung masih jam setengah sebelas, saya menyempatkan diri untuk berjalan kaki melihat-lihat suasana jalan Veteran, jalan Ahmad Dahlan hingga jalan Ahmad Yani. Banyak bangunan kuna sepanjang jalan Ahmad Yani. Bagi penyuka fotografi, tempat ini bagus untuk dijadikan sebagai objek foto.

Oleh karena memang wayahnya untuk makan siang, perjalanan saya pun terhenti dulu disebuah warung bakmi. Hehehe.

Tetap semangat jalan-jalan bersama mas Feb jalan-jalan.

Komentar

  1. Hidup Purworejo! Ayo mas jalan2 terus di Purworejo! :D

    BalasHapus
  2. Makasih info nya mas aku mau coba doa kan ya heheh

    BalasHapus
  3. Kalo boleh tau, harga mikro bus dari wonosobo ke purworejo nya berapa ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo tidak salah ingat 10 ribu atau 15 ribu karena itu dulu tahun 2014. Kalo sekarang mungkin sudah ada penyesuaian tarifnya karena jaraknya lumayan jauh.

      Hapus
  4. matursuwun mas,aku besok mau ngetrip jkrta-wnosobo-pordjo

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi