Langsung ke konten utama

Suatu Pagi di Pasar Babadan, Ungaran

Setelah bulan Juli tahun 2013 yang lalu pasar ini mengalami kebakaran hebat, akhir bulan Juli tahun 2014 kemarin kami jalan-jalan pagi ke pasar ini. Masih belum terlihat adanya pembangunan dan perbaikan pada pasar yang telah mengalami kebakaran. Pedagang masih menggunakan tempat sementara untuk menggelar dagangannya. Bila sebelum terjadinya kebakaran para pedagang ini biasa menggelar dagangannya dikios-kios didalam pasar, maka kali ini bagi pembeli harus berjalan kaki dulu agak ke dalam disepanjang jalan Merdeka sebelum Taman Makam Pahlawan.

Suasana Keramaian Kios Sementara Pasar Babadan Ungaran - Juli 2014


Meskipun didalam pasar tetap ada yang berjualan dikios-kios yang tersisa, tapi lapak paling ramai adalah ditempat kios sementara. Sayuran, daging, semuanya dijual disana. Para pedagang dikios sementara ini biasa hanya berjualan sampai jam-jam tertentu karena bila siang sudah menjelang, tanah lapang tempat berjualan sementara ini sudah sepi ditinggal para pedagangnya. Jadi keramaian transaksi penjual-pembeli hanya terjadi dipagi hari.
Lapak Sayur-mayur yang Persis diSisi Jalan Merdeka
Kios didalam Pasar Babadan
Satu yang masih menjadi pertanyaan saya, mengapa hingga saat ini yang terhitung sudah setahun dari peristiwa kebakaran hebat, pasar Babadan masih belum diperbaiki. Tapi entahlah, mungkin kendala masih sekitar dana.

Tetap semangat jalan-jalan bersama mas Feb jalan-jalan.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi