Langsung ke konten utama

Sampah oh Sampah...

Ketika saya jalan-jalan ke Bandung, lebih tepatnya di jalan Sukajadi, saya dapat menemukan dengan mudahnya tempat sampah. Unik saya bilang tempat sampahnya. Tempat sampah yang saya temukan disini berbentuk kantong plastik yang berwarna hijau dan putih. Warna hijau untuk sampah organik dan warna putih untuk sampah anorganik. Tempat sampah ini jika tanpa plastik kelihatannya hanya berbentuk dua buah tutup plat lingkaran. Jadi tempat sampah disini kalau saya bilang tempat sampah yang ringkas dan praktis. Jika tempat sampah ini sudah penuh, kantong plastik sekaligus diangkat untuk kemudian tempat sampah langsung diganti dengan kantong sampah yang baru.

Tempat Sampah Unik di Sepanjang Jalan Sukajadi, Bandung

Mungkin tempat sampah demikian hanya ada di jalan Sukajadi karena disepanjang jalanan Sukajadi terdapat banyak spot keramaian. Ada kampus, kafe, supermarket, sekolah internasional, dan sebagainya. Beda dengan di jalan Peta. Meskipun sama-sama masih daerah Bandung, tapi jalan Peta beda jauh dengan jalan Sukajadi. Di jalan Peta sulit sekali saya temukan tempat sampah. Tempat sampah hanya saya temukan dekat dengan mall Hyperlink yang menempel dengan hotel Harris.

Lain Bandung, lain pula dengan Jakarta. Kota Jakarta adalah ibukota negara sehingga wajar bila keramaian juga terpusat disini. Tapi berbanding terbalik dengan keramaian yang ada, disini begitu sulit menemukan tempat sampah! Contoh kasus ketika saya mengunjungi Istiqlal, berjalan kaki melalui lapangan Banteng dan depan gereja Kathedral, sepanjang trotoar kantor pos lama dan Pasar Baru, begitu sulit menemukan tempat sampah karena kita harus mencarinya terlebih dahulu yang kadang letaknya sangat jauh dari spot-spot keramaian yang saya sebutkan tadi.

Butuh berapa kaporit untuk menjernihkan air sungai ini?
Mancing? Apa ada ikannya pak?
Sampah sepanjang sungai
Bahkan sepanjang sungai yang mengelilingi Istiqlal, banyak sekali berserakan mengambang sampah-sampah plastik dan UFO (unidentified floating object). Yang mengherankan ternyata masih ada satu-dua orang yang memancing disungai sekeruh itu (jadi teringat peribahasa: seperti memancing diair keruh). :D

Mengecewakan memang, apalagi dalam keyakinan agama saya diajarkan bahwa kebersihan merupakan sebagian dari iman - Annadzoofatuu minal imaan. Agama sudah memberikan ajaran yang baik mengenai kebersihan dan eksekusi terakhir tinggal manusianya, apakah menyadari dan berkeinginan untuk menjadikan lingkungannya menjadi bersih atau tidak. Ya mungkin seperti yang dikatakan oleh aa' Gym: Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, mulai saat ini. Jadi, apa yang sudah kita lakukan untuk menjadikan lingkungan kita bersih dari sampah?

Tetap semangat bersih-bersih dan jalan-jalan bersama mas Feb jalan-jalan.

Komentar

  1. Ini dia, mestinya di kota-kota besar harus disediakan banyak tempat sampah supaya warga nggak kebingungan buang sampah di mana. Eh, tapi kota-kota besar juga kesulitan memperoleh lahan untuk tempat pengolahan sampah karena produksi sampah di kota-kota besar kan banyak banget. Jadi ya... dilematis...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rumit juga ya. Tapi kedepan mudah-mudahan ada solusinya ya.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi