Langsung ke konten utama

Dari Naik Cebong hingga Jalan Malam di Kabupaten Banjarnegara

11 Juni 2014 - Akhirnya saya dan teman-teman tiba di stasiun Purworkerto setelah duduk didalam kereta selama hampir 6 jam. Sedikit sepur-lag, kami pun melanjutkan perjalanan menuju kabupaten Banjarnegara. Karena kami harus mengirit budget, maka saya dan teman-teman bersepakat untuk menggunakan angkutan umum saja. Jadilah kami naik angkot untuk menuju terminal bis. Cukup membayar Rp. 2.ooo saja per kepala. Murah kan?

Sampai Juga di Stasiun Purwokerto
Angkote Inyong Luwih Murah Tinimbang Angkot Neng Jakarta
Kabupaten Banjarnegara terletak ditengah-tengah antara kota Purwokerto dan kabupaten Wonosobo. Perjalanan dari Purwokerto ke kabupaten Banjarnegara membutuhkan waktu kurang-lebih satu setengah hingga dua jam. Tergantung Anda menggunakan kendaraan apa. Bila Anda beruntung, Anda dapat merasakan bus Cebong yang super cepat (Kalau ada yang tau apa itu cebong, pasti bakalan senyum-senyum sendiri). Tips bagi Anda yang menggunakan bus Cebong Jaya ini adalah cari tempat untuk berpegangan. Meskipun ukuran busnya kecil tapi larinya cepat bung! Hanya membayar Rp.17.ooo, kita bisa merasakan sensasi naik roller coaster berkeliling kota Purwokerto hingga kabupaten Banjarnegara. :D

Beginilah Naik Cebong Jaya
Setelah berpenat berpeluh dan menahan hentakan lajunya bus Cebong Jaya, kami pun tiba di kabupaten Banjarnegara. Kami turun di terminal lama Banjarnegara (jalan Ahmad Yani kalau gak salah). Berjalan kaki sekitar 30 menit untuk mencapai penginapan tempat tinggal sementara kami selama di Banjarnegara. Oleh karena baru kali ini saya dan teman-teman mengunjungi Banjarnegara, kami pun penasaran sehingga malam ini kami berencana untuk keliling jalanan sekitar penginapan untuk sekedar 'berkenalan' dengan lingkungan.

Maka tepat bakda Maghrib, saya dan teman-teman keluar dari penginapan dan mulai menyusuri jalanan. Dimulai dari jalan Dipayuda, kami juga memulai malam itu dengan makan malam di Pujasera. Seporsi ayam penyet seharga Rp. 18.ooo, saya kira pas untuk sekadar mengganjal perut. Hasil dari pengamatan (melihat dari bannernya doang sih), si pedagang ayam penyet rupanya bukan orang asli Banjarnegara melainkan dari Lamongan.
Makan Malam Menu Ayam Penyet
Target Makan Malam Berikutnya: Mie Ongklok
Malam di Jalan Dipayuda
Sudah Banyak Warung Makan
Perut sudah terisi sekarang kembali berjalan-jalan melihat suasana malam. Ternyata disini banyak toko-toko dan warung-warung tenda yang berjualan sepanjang jalan Dipayuda. Selain makanan, dijalan Dipayuda ini juga banyak penjual keping DVD film dan musik. Ramai memang, tapi tidak lebih ramai daripada di jalanan-jalanan Jakarta. Pun demikian halnya di jalan Pemuda. Satu yang saya dan teman-teman masih penasaran adalah mie ongklok. Pada malam itu kami hanya bisa bertekad besok malam kita harus mencicipi mie ongklok. Eh ternyata besok malamnya si pedagang tidak berjualan karena malam jumat memang kebanyakan pedagang di warung tenda tidak berjualan. :P

Meski demikian, suatu saat bila masih ada kesempatan main lagi kesini saya dan teman-teman masih bertekad bulat bersama untuk mencicipi mie ongklok yang menghilang dimalam berikutnya itu. Jalan-jalan malam kami berakhir tepat pukul 22.00 waktu Banjarnegara. Rasa penat dan lelah selama perjalanan dari Purwokerto ke Banjarnegara hilang sudah karena terbayar dengan suasana jalan-jalan malam yang unik di Banjarnegara. Tetap semangat jalan-jalan bersama mas Feb jalan-jalan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi