Langsung ke konten utama

Makan Mie Oplosan di Jantung Kota Purworejo

Kelaparan setelah 'mengukur' jalanan dari Banjarnegara - Wonosobo - Purworejo, singgahlah saya disebuah warung bakmi. Gak tanggung-tanggung, bakmi yang dijual disini katanya adalah bakmi oplosan! Apa sih yang dimaksud dengan bakmi oplosan? Mudah-mudahan bukan dioplos pakai bahan yang aneh-aneh ya..
Mie Ayam Bakso Original
Jus Strawberry
"Mas! Pesen satu porsi mie ya.


Tak lama kemudian mie ayam oplosan itu datang bersandingan dengan jus strawberry diatas nampan. Untuk kemudian mendarat dimeja nomor 8.

Dari tampilannya sekilas saya merasa aneh. Kuahnya yang berwarna kuning, potongan mentimun, potongan daging ayam yang keriting, dan potongan daun bawang. Kurang menarik, yakin deh. Apalagi saya tidak suka dengan daun bawang. Dan ternyata tebakan saya dari tampilan mie benar adanya. Baru kali ini saya makan mie ayam yang kuahnya berwarna kuning kunyit.

Sehabis saya tanya-tanya dan membayar sebesar Rp. 12.ooo, ternyata yg dimaksud dengan oplosan adalah tambahan komposisi ketika mie ayam disajikan, seperti potongan sosis atau parutan keju.

Komentar

  1. woalah. Saya pikir mie ayam dengan perabot dan kuah soto >.<
    Saya pernah iseng request ke bakul mie ayam yang sekaligus jual soto. Lha dia irisan ayamnya dari ayam soto, ya sekalian saja saya minta kuahnya dari kuah soto bukan kuah mie ayam. Rasanya wagu, tapi berhubung laper ya habis, hahaha.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi