Langsung ke konten utama

Menikmati Sanger di Warung Kopi Solong, Ulee Kareng

Solong Coffee Ulee Kareng. Demikian nama warung kopi ini dikenal oleh para pelancong. Sambil bercanda saya bertanya kepada Fadhil, seorang teman dari kantor kami yang berada di Aceh, : "Apakah warung kopi ini begitu jauh dari pusat kota sehingga dinamakan solong (so long - bahasa Inggris)?".

Fadhil tertawa mendengar pertanyaan saya. Dia rupanya mengerti candaan saya.

"Bukan mas. Solong adalah nama daerah dimana warung kopi ini pertama kali berjualan. Sebutan Warung Kopi Jasa Ayah adalah karena dulu yang berjualan adalah ayah dari pemilik yang sekarang. Ulee Kareng karena warung kopi letaknya di kecamatan Ulee Kareng."

Wah! Lengkap banget penjelasan dari Fadhil. Oke, sekarang kita pesan kopinya. Tapi dengar-dengar kopi yang original rasanya pahit luar biasa. Seorang teman yang sudah lebih dulu mencicipi kopi disini ditahun 2011 bercerita rasanya luar biasa sampai-sampai teman saya ini merasa pusing. Baiklah kalau begitu atas saran dari Fadhil, kami bertiga memesan kopi sanger. 
Buih dan Rasanya Luar Biasa
Rian & Fadhil Sedang Menikmati Kopi Sanger
Logo Warung Kopi Solong
Lho? Apa lagi itu? Kedengaran seperti ke-Bali-Bali-an. Itu Janger mas, bukan Sanger. Menurut info dari hasil browsing, sanger merupakan singkatan dari "sama-sama ngerti" atau kalau didaerah lain lebih dikenal dengan sebutan kopi susu. Pencetusnya adalah para mahasiswa yang kuliah di Aceh. Karena mereka tidak punya uang untuk membeli kopi dan susu, akhirnya para mahasiswa membuat kesepakatan dengan pemilik warung saat itu. Komposisi kopi dan susunya sedikit saja sehingga harganya sesuai dengan kantong mahasiswa. Entah cerita tersebut benar atau tidak, perlu dibuktikan dulu. Hehehe.

Tambah Gula & Penganannya
Tak perlu tunggu lama, kopi sanger pun datang. Memang sih kopinya imut. Barangkali ini bisa menjadi bukti tentang kebenaran asal muasal kata sanger tadi. Untuk secangkir sanger ini dihargai Rp. 9.ooo.

Mas Barrista Sedang Mengolah Kopi
"Itu mas, kalau mau melihat barrista-nya beraksi membuat sajian kopinya.". Saya pun menoleh kearah yang ditunjuk oleh Fadhil. Sayang saya tidak sempat mengabadikan barrista disini beraksi mengeluarkan jurusnya karena perlu waktu yang tidak lama si barrista membuat kopi tersaji.

Diwarung kopi yang didirikan sejak 1974 ini selain menjual sajian kopi, juga menjual cemilan pengantar minum kopi. Ada bikang, kacang dan penganan kecil lainnya. Oh iya, jangan lupa untuk membeli kopi bubuknya untuk dibawa pulang. Warung kopi ini menjual kopi bubuk dalam kemasan. Ada yang beratnya 1, 1/2, 1/4. Harganya pun bervariasi tergantung beratnya. Pokoknya sudah siap dibawa pulang deh.

Beli Kopi Kemasan Untuk Dibawa Pulang
Kopi Ulee Kareng Kemasan 1/4
Note: Setelah saya tiba di Jakarta menurut beberapa kerabat dan teman yang mencicipi kopi kemasan yang saya bawa dari Aceh, semuanya mengatakan kopinya enak bin mantabbb.. Meskipun ampasnya besar-besar bila tidak disaring. :D

Kopi Ulee Kareng Jasa Ayah Solong
Jl. T. Iskandar Sp. 7 Ulee Kareng
Kota Banda Aceh
Nanggroe Aceh Darussalam

Komentar

  1. Distribusi kopi Ulee Kareng ini sepertinya hanya terbatas di Aceh saja ya Mas? Kira-kira di Jakarta ada nggak ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya iya mas. Hanya di Aceh saja. Atau mungkin belum ketemu yang ada di Jakarta ya. Info dari teman yang disana, kalau di Jakarta beredar kopi Ulee Kareng (terutama yang kemasan kardus) biasanya bukan murni 100% kopi, sudah campuran jagung.

      Hapus
  2. Bisa order solong kok bang :D aku sering order

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah bisa ya? Manteb tuh. Aku browsing2 dulu deh. Hehehe :D

      Hapus
  3. Ini kopi apa bumbu pecel ya wkwkwk... Keliatan gede2 serbuknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut keterangan dari para 'tetua' yang mencicip kopinya, serbuk yang kasar justru yang bikin ajiib rasanya. Tapi kalo menurut saya, serbuknya jadi bikin gak pede. Bayangin semisal habis nyeruput kopinya, trs ampasnya ketinggalan disela-sela gigi depan. Habis itu kita coba2 senyum.. Hehehe

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi