Langsung ke konten utama

Mampir Beli Oleh-Oleh di Bakpia Bagelen Jeane

Bila singgah di Bagelen, jangan lupa mampir ke Toko Bakpia Bagelen Jeane. Boleh hanya sekedar melihat-lihat dan tidak membeli apapun tapi boleh juga memborong bila ada budget lebih. Berkesempatan mengunjungi toko oleh-oleh ini dibulan Juni 2014, saya pun membeli beberapa penganan khas Purworejo. Toko yang berlokasi di jalan Raya Jogja kilometer 11 ini letaknya persis di pertigaan Bagelen, seberang patung kambing etawa yang ngetop sejagad Purworejo itu. Menjual beraneka penganan baik yang khas Purworejo maupun khas daerah lain di pulau Jawa, toko ini berusaha menjadi toko yang menjual oleh-oleh khas daerah pulau Jawa.

Toko Bakpia Bagelen Jeane
Pemilik toko oleh-oleh ini adalah ibu Jeane. Dengan memberdayakan anak muda didaerah sekitar, toko Jeane juga turut menghidupkan UKM dan menjadi ikon toko oleh-oleh dari Bagelen. Setiap yang mudik ke Jogja, Wates apalagi yang mudik ke Bagelen mesti melewati jalan raya ini dan melihat plang besar dipinggir jalannya. Letaknya yang persis dipinggir jalan dekat dengan jembatan Bogowonto, membuatnya mudah terlihat dari jalan. 


Dengan menyediakan kursi-kursi dan meja diteras, toko Jeane memahami bahwa pembeli produk-produk mereka kebanyakan berasal dari luar Purworejo. Selain berfungsi untuk istirahat sejenak bagi pembeli, kursi-kursi tersebut juga seringkali digunakan oleh para pembeli yang telah membeli oleh-oleh untuk mencicipi karena saking penasaran dengan rasa oleh-olehnya.


Produk unggulan dari toko Jeane ini jelas adalah bakpia karena di-plang toko tercantum Bakpia Bagelen Jeane. Bakpia-nya merupakan produksi sendiri alias fresh from the oven dengan bermacam rasa. Selain bakpia, penganan yang juga diproduksi oleh toko ini adalah lanting yang dibungkusnya tercetak logo huruf J. Makanya bila pembaca sempat berkunjung ke Bagelen jangan lupa juga untuk menyempatkan diri mampir ke toko oleh-oleh ini dan melihat dapur pembuatan bakpia dan lantingnya. 

Komentar

  1. Eh, di tahun 2009 aku pernah mampir kemari lho nganter kawan beli oleh-oleh, hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mampir mas. Rumahnya pak lik saya seberangnya kali Bogowonto, desa Ketangi. Pernah ke Watu Genuk belum mas? Itu dengar2 situs wingit. Mungkin mas Wijna tertarik untuk golek wangsit disana. Hehehe.

      Hapus
  2. weleh.... aku sering kesini....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dideket situ ada warung soto ayam yang enak dan murah lho mas. Letaknya diseberang toko Jeane itu.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi