Langsung ke konten utama

Kota Tua Episode 1 - Stasiun Beos & Stadhuis

Enam belas Agustus 2014, saya mengajak adik ipar jalan-jalan ke kota tua Jakarta. Meskipun saya sudah berkali-kali mengunjungi tempat ini, selalu ada saja bagian-bagian kecil yang terlewati. Mungkin bagi orang lain untuk berkali-kali mengunjungi tempat yang sama membosankan. Maka buat saya boleh dibilang tiada bosan mengunjungi tempat ini.

Suasana di Dalam Stasiun Beos
Berangkat dari rumah saya di Cakung, Jakarta Timur sekitar pukul delapan pagi. Memacu motor dengan berboncengan bersama Habib (adik ipar saya) melalui rute Pulogadung - Perempatan Pulomas - Letjen Suprapto - Galur berbelok mengikuti aliran sungai dimana dulu legenda Betawi, bang Benyamin sering mandi disini. Kemudian menelusuri jalan baru Haji Benyamin Sueb lurus terus hingga sebelum masuk tol Kemayoran ambil jalan ke kiri, sebelah stasiun Ancol. Menyusuri jalan raya R.E. Martadinata dan mengikuti jalur angkutan umum: Kp. Bandan - jalan Kunir kecil - jalan Ketumbar - jalan Lada hingga tiba di parkiran Stasiun Kota Tua sekitar jam 9.15.

Gedung Stadhuis
Begitu sampai disana.. Wuiiiihhh!!! Panasnyaaaa.!! Padahal masih jam sembilan! Jadi terbayang seperti apa rasanya tengah hari nanti. Oke sekarang kita lanjut lagi ke perjalanan di Kota Tua. Karena sudah berkali-kali ke tempat ini, saya pun jadi tourist guide-nya Habib. Spot pertama adalah stasiun Jakarta Kota. Stasiun ini dibangun di era pendudukan Hindia Belanda dan dulunya dinamakan stasiun Beos yang merupakan akronim dari Batavia En Omstreken (Batavia dan sekitarnya). Makanya tidak heran stasiun ini begitu besarnya. Setelah Habib berpuas diri mengambil beberapa gambar foto disana sini, kami pun beranjak dari stasiun Beos menuju gedung Museum Sejarah Jakarta alias Museum Fatahillah. 
Habib Berfoto Dekat Patung Dewa Hermes
Pada jamannya, gedung museum ini digunakan sebagai pusat pemerintahan VOC. Si Jenderal Jan Pieterzoon Coen kalau tidak salah yang dulu berinisiatif supaya dibangun stadhuis (sebutannya waktu dulu) ditempat ini. Fungsinya selain sebagai pusat pemerintahan juga sebagai tempat peradilan bagi para tahanan VOC. Beberapa pahlawan Indonesia pernah ditahan disini lho, seperti Cut Nyak Dien dan Pangeran Diponegoro. Bila berkunjung ke museum ini, akan dirasakan betapa penjara bawah tanahnya tidak manusiawi karena tinggi ruangan penjara hanya sekitar setengah meter. Ketika kami mengunjungi museum ini, beberapa bagian museum sedang direnovasi, sehingga ya rejekinya Habib lah tidak bisa melihat ke seluruh ruangan. 

Sebelum meninggalkan museum Sejarah Jakarta, saya dan Habib beristirahat sejenak dihalaman dalam museum sambil menikmati kuliner khas betawi (ini nanti saya tulis di artikel selanjutnya ya). Hari itu ternyata banyak juga pengunjung Kota Tua. Usut punya usut ternyata dihalaman luar museum juga sedang akan diadakan event peluncuran chanell tv milik KPK sehingga di hari itu spot ini ramai pengunjung. 
Test-drive Sepeda di Halaman Luar Museum Fatahillah
Setelah keluar museum Sejarah Jakarta dan melihat-lihat suasana dihalaman luar museum, Habib tertarik untuk mencoba sepeda onthel yang banyak disewakan disana. Harga sewanya bervariasi, untuk onthel + topi meneer Rp.20ribu, sedangkan sepeda mini + topi Rp. 10ribu. Menurut saya sih itu termasuk mihil. Tapi ya sekali-sekali gak apa-apa deh. Sementara ini dulu ceritanya. Di episode berikutnya ada museum lain yang masih di area kota tua juga. Tetap semangat jalan-jalan.


Komentar

  1. Sekalinya saya ke kota tua pas lagi rame-ramenya. Pusing jadinya, hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lho kok pusing mas? Kan asiknya rame2. Hehehe. Btw, web mblusuk.com ganti theme-nya mas?

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi