Langsung ke konten utama

Kota Tua Episode 2 - Museum Wayang & Museum Seni Rupa

Setelah sebelumnya sampai di Stasiun Beos dan mengunjungi Museum Fatahillah serta mencoba menggenjot sepeda onthel, saya dan Habib melanjutkan tour ke Museum Wayang yang pada eranya gedung aslinya digunakan sebagai gereja oleh VOC. Menurut isu yang berhembus, digedung museum ini terdapat makam jenderal Jan Pieterzoon Coen. Memang benar sih disini terdapat semacam batu nisannya. Tapi menurut info sih jenazahnya si jenderal yang lahir di wilayah Hoorn - negeri Belanda ini tak lama setelah meninggal diangkut kembali ke negeri asalnya.
Museum Wayang

Ini Bagian Ruang Pamer yang Saya Suka di Museum Wayang, Artistik Banget!

Ragam Wayang dari Wilayah Canton di Cina
Habib sedang Mengamati Lukisan di Dinding Lorong Museum Wayang
Di dalam Museum Wayang terdapat ruang pamer yang memajang berbagai macam koleksi wayang (atau boleh saya bilang wayang dan boneka). Selain banyak jenisnya, dimuseum ini juga banyak wayang dengan bermacam ragam bahan dan asal negara. Ada yang bahannya dari kayu, disebut juga wayang klitik. Ada dari rumput, dari kulit kerbau, kulit sapi dan sebagainya. Ada wayang dari negara Thailand, Kamboja, Cina (wayang Po Te Hi) dan lainnya. Bagi yang pernah nonton serial film si Unyil di TVRI dulu, dimuseum ini terdapat koleksi asli boneka si Unyil dkk. Disamping wayang, museum ini juga mengkoleksi lukisan yang masih berbau wayang, seperti lukisan etnik dari Bali. Ada juga ragam hias diatas kulit binatang juga masih dengan style wayang. Pelengkap wayang, yaitu alat musik gamelan juga dipamerkan di museum ini. 

Souvenir Shop di Museum Wayang
Pagelaran Wayang Kemerdekaan
Kebetulan saat saya dan Habib ke museum ini sedang digelar pagelaran wayang kulit kemerdekaan karena sehari menjelang perayaan HUT RI. Jadi wayang yang ditampilkan bukan seperti wayang kulit purwa, tapi wayang kulit disini menampilkan tokoh-tokoh kemerdekaan seperti bung Karno, bung Hatta, Syahrir, dan lain-lain. Meskipun demikian, musik yang mengiringinya tetap menggunakan gamelan dan tembang laras jawa. Hampir kurang-lebih setengah jam saya menonton pagelaran wayang disana sebelum akhirnya keluar dari Museum Wayang. Di dekat pintu keluar museum terdapat souvenir shop yang menjual pernak-pernik bertema wayang. Kalau ada uang lebih boleh deh untuk beli souvenirnya. Kemudian saya dan Habib kembali melanjutkan penjelajahan ke museum selanjutnya, yaitu museum Seni Rupa dan Keramik.

Selamat Datang di Museum Seni Rupa dan Keramik
Letak Museum Seni Rupa dan Keramik ini kira-kira 50 meter berseberangan dengan Museum Wayang. Gedungnya sendiri pada jaman VOC digunakan sebagai kantor pengadilan. Bentuk depannya mirip dengan gedung Museum Nasional. Di lobi utama gedung terdapat loker-loker yang ternyata disediakan oleh pihak museum bagi para pengunjung untuk menyimpan barang bawaan karena di museum ini dilarang untuk mengambil gambar menggunakan kamera kecuali kamera handphone.
Suasana 'Horror'
Baru kali ini sebenarnya saya masuk ke dalam museum dan tahu bagian dalamnya ternyata seperti asrama, terdapat ruangan-ruangan seluas ruang kelas-ruang kelas. Sementara dihalaman tengah museum terdapat ruang terbuka yang dapat digunakan untuk bersantai maupun tempat untuk pertunjukan seni. Hawanya lumayan adem. Tapi nuansa 'horror'-nya tetap terasa.
Salah Satu Koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik
Yang menjadi koleksi dari museum ini antara lain: lukisan, patung berbahan kayu, benda-benda seni yang berasal dari jaman kerajaan Majapahit seperti tembikar dan celengan dari tanah liat, ragam seni ukir dan tentu saja ragam seni keramik.

Karena hari sudah menjelang sore dan museumnya tutup pada pukul 15.00, saya dan Habib pun kembali ke pelataran parkir di Stasiun Beos untuk kemudian kembali ke rumah. Jadi, sudah ada yang pernah masuk ke dalam Museum Wayang dan Museum Seni Rupa?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi