Langsung ke konten utama

Melihat Aksi Penjual Tauge Goreng

Di sebuah film, aktor kenamaan Betawi - Benyamin Sueb memperkenalkan kuliner khas Betawi ini. Meskipun namanya Tauge Goreng, tapi tak satupun bahan-bahan yang diracik ada yang digoreng. Gak percaya? Lihat saja aksi si penjual tauge goreng yang saya dapati di Kemayoran. Meskipun saya tidak mencicipi, saya lihat aksi si abang penjual cukup seru. Siang hari di akhir pekan pertengahan bulan Oktober 2014 yang lalu baru saya lihat bagaimana tauge goreng diracik.
Gentong Berisi Saus Tauco



Diaduk-aduk Biar Merata Panasnya

Mengambil Daun Kucai dan Oncom
Siram Saus Tauco

Bahan-bahannya sederhana, yaitu tauge (tentu saja), potongan-potongan oncom, daun kucai, dan tak lupa saus tauco. Kadang juga diberi sambal bagi pembeli yang suka dengan rasa pedas. Cara meraciknya juga tak kalah sederhana. Piring kaleng digunakan sebagai wajan. Dengan menggunakan api kecil, si abang mencampurkan semua bahan-bahan tadi ke dalam piring kaleng yang telah diberi air tersebut. Bisa dikatakan direbus tapi airnya tidak sampai mendidih. Kemudian diaduk-aduk. Kalau saya lihat, sebenarnya si abang bukan sedang memasak, melainkan memanaskan bahan-bahan yang dicampur tadi. Menggunakan centong khusus yang bentuknya seperti huruf Z, tangan si abang penjual dengan lincahnya mengaduk-aduk bahan tauge goreng. Cukup lima belas menit, sajian tauge goreng siap dibungkus dan dibawa pulang. Harganya pun tak perlu mahal-mahal, cukup Rp. 5.ooo saja.

Selama proses peracikan, si abang bercerita tentang jualannya. Jaman sekarang yang menjual dan membeli tauge goreng sudah sangat jarang. Kalau pun ada biasanya jualannya didaerah pinggiran kota. Dahulu makanan ini jadi primadona di kalangan masyarakat Betawi. Untuk soal rasa sejujurnya saya belum pernah mencicipi tauge goreng. Terus terang saya tidak terlalu suka dengan saus tauconya. Ketika itu saya membeli tauge goreng untuk ibu saya yang merupakan fans berat kuliner tauge goreng ini. Ngomong-ngomong, sudah ada yang pernah mencicipi tauge goreng? 

Komentar

  1. We? Saya malah tahunya tauge goreng itu dari Bogor...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini kayak soto mas. Ada soto bogor tp ada jg soto betawi. Yg lebih dikenal luas oleh masyarakat adalah toge goreng bogor. Tp trnyata toge goreng jg khas betawi. Ada bedanya? Pastinya ada perbedaan. Boleh deh tanya yg tinggal di Kemayoran ato di kampung Babakan. Hehehe..

      Hapus
  2. Belum pernah nyobain makanan ini. Habisnya ada oncomnya. Gak terlalu suka oncom sih :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi