Langsung ke konten utama

Dari Pasar Klewer Hingga Pasar Modern Solo

Saya termasuk yang beruntung karena sebelum diberitakan kebakaran diakhir bulan Desember 2014, saya, Zidni dan istri saya sempat mengunjungi pasar Klewer, Solo pada tanggal 15 Desember 2014. Niat jalan-jalan ke Solo tercetus setelah sebelumnya kami keliling Taman Wisata Prambanan. Sementara kami masih di Jogja tapi bingung mau ke mana lagi? Malioboro? Borobudur? Atau ke tempat lainnya? Akhirnya Solo jadi pilihan.
Selamat Datang di Pasar Klewer



Berangkat dari hotel Galuh Prambanan jam 08.00 pagi, kami menggunakan bus umum (kalau di Jakarta mungkin seperti bus patas atau mayasari bakti). Kalau tak salah ingat, tarifnya Rp. 8.ooo per orang. Dari jalan raya Prambanan-Solo meluncur cepat menuju kota batik tersebut. Situasi didalam bus kurang lebih sama dengan situasi ketika naik bus patas di Jakarta. Ada pengamen, ada pedagang asongan, pedagang buku, dan lain sebagainya. Tapi keramaian tersebut hanya terjadi ketika bus sedang mangkal di terminal bus Penggung. Saat bus sudah kembali berjalan, para pedagang pun sudah tidak berada didalam bis.
Daerah Kauman
Waktu yang dibutuhkan dari ujung jalan Manisrenggo (jalan raya Prambanan) hingga tiba di Solo (depan stasiun Solo Balapan) sekitar dua jam. Yang membuatnya menjadi lama adalah waktu mangkal di terminalnya. Kami turun di pertigaan Kerten kemudian naik batik trans. Meskipun baru pertama kali, dengan bekal nekad tanya sana-sini, kami akhirnya tiba juga di halte Sampurna jalan Slamet Riyadi untuk kemudian mbecak menuju pasar Klewer. Mumpung lagi di Solo, sehingga kami menjatuhkan pilihan untuk mencoba menggunakan jasa becak Solo. Selama perjalanan, kami berkeliling lewat jalan belakang pasar Klewer yang lebih dikenal dengan kawasan Kauman. Disini banyak bangunan-bangunan tua yang kelihatan tidak terawat. Sayang banget deh. Bila dibandingkan dengan Jogja, mungkin bangunannya seusia. Tapi bangunan-bangunan yang di Jogja menurut saya lebih terurus.

Daerah Kauman
Keramaian di Depan Pasar Klewer

Hingga akhirnya kami tiba di jalan Doktor Radjiman alias depan Pasar Klewer. Baru kali ini saya menjejakkan kaki di Pasar yang paling ngetop se-kota Solo. Karena segera bergegas ke dalam pasar, saya tidak sempat mengambil foto aktivitas pasar yang ramai ketika itu.

Ada mungkin sekitar 2 jam kami berada didalam pasar melihat-lihat komoditas yang menjadi andalan pasar ini. Yang menarik menurut saya adalah kain luriknya. Tidak halus memang bahannya, tapi unik dan membawa nostalgi saya ke jaman baheula.

Sebelum pulang, kami sempat sholat dan makan siang di mall PGS. Banyak hal sebenarnya bila ingin ditelusuri dari kota Solo ini. Tapi mungkin dilain waktu ketika ada kesempatan untuk kembali kesini.. Mudah-mudahan...

Komentar

  1. Saya pernah sekali naik bus dari Solo ke Jogja. Penuhnya bukan main! Busnya sampai miring, hahaha. :D Tapi memang waktu tempuhnya lama. Kalau penumpangnya "sedikit", lama pas ngetem. Tapi kalau penumpangnya kebanyakan, ya.. jalannya jadi pelan2, hahaha, dilematis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sistemnya masih pakai setoran sih. Jadi busnya mau gk mau minimal harus dapat uang sejumlah uang setoran per hari..

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi