Langsung ke konten utama

Bertamu ke Balai Penelitian Tanaman Obat Tawangmangu

Apa yang langsung tergambar didalam pikiran Anda ketika menyebut wisata di daerah Tawangmangu? Mungkin ada yang langsung menyebutkan wisata Grojogan Sewu. Atau mungkin ada juga yang menyebutkan wisata Candi, taman Balekambang. Atau bahkan wisata kuliner khas Tawangmangu seperti sate kelinci. Barangkali masih sedikit yang terpikir tentang wisata jamu. Lho? Wisata jamu? Adakah? Tentu ada di daerah Tawangmangu. Tepatnya di Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional yang terletak di jalan Raya Lawu No. 11, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Karena posisinya yang terletak pada ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut (dpl), selain bisa refreshing berplesir ria menghirup udara segar, disini kita juga bisa belajar.
Alat-Alat Tradisional yang Digunakan Untuk Menyeduh Jamu
Buku Jaman Dahulu yang Memuat Resep


Sekilas Balai Besar Litbang TOOT
Setelah menempuh perjalanan darat menggunakan taksi kurang-lebih selama satu jam setengah dari bandara Adi Sumarmo Solo, kita dapat sampai di kantor Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional, Tawangmangu. Balai besar penelitian yang lebih sering disingkat dengan B2P2TOOT atau BaBeTOOT merupakan sebuah institusi dibawah Kementerian Kesehatan yang bergerak dalam bidang penelitian serta pengembangan tanaman obat dan obat tradisional yang sering kita kenal sebagai herbal. Herbal merupakan salah satu jenis pengobatan medis yang menggunakan tanaman alam yang sudah melalui penelitian dan terbukti khasiatnya. Oh iya, mantan Presiden kita, pak SBY juga pernah mengunjungi Balai Besar Litbang TOOT lho di tahun 2009 yang lalu.

Koleksi Jamu Bermerk

Wisata Ilmiah, Wisata Kesehatan Jamu
Sesuai dengan visi misinya, yakni menjadi institusi unggulan dan referensi nasional dalam bidang penelitian dan pengembangan tanaman obat dan obat tradisional yang berkualitas berdasarkan kaidah ilmiah dan etika, Balai Litbang TOOT memiliki sejumlah fasilitas yang mumpuni untuk meneliti dan mengembangkan tanaman obat. Fasilitas tersebut yaitu klinik saintifikasi jamu, laboratorium terpadu, griya jamu, museum jamu, etalase tanaman obat, dan kebun Tlogo Dlingo. Dengan didukung oleh fasilitas tersebut, Balai Litbang TOOT menawarkan Wisata Kesehatan Jamu.

Pohon Taksonomi Jamu
Etalase Tanaman Obat
Wisata Kesehatan Jamu bertujuan sebagai wisata ilmiah litbang TOOT untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap penggunaan dan pemanfaatan jamu tradisional yang aman dan dan berkhasiat. Selain itu, wisata ilmiah ini juga bertujuan untuk melestarikan tanaman obat dimana pengemasan wisatanya lebih diarahkan bersifat rekreatif dan edukatif sehingga dapat menarik minat generasi muda. Program wisata ilmiah ini didukung dengan fasilitas Sinema Fitomedika, Museum Jamu, Perpustakaan, Giftshop, dan Ruang Pertemuan.

Nah, bagi yang ingin melakukan wisata ilmiah ini ke Balai Besar Litbang TOOT dapat mengirimkan surat permohonan kepada Kepala Balai. Untuk tarif kunjungan termasuk yang terjangkau. Untuk lebih detil mengenai wisata ilmiah ini dapat menghubungi Balai Besar Litbang TOOT melalui telepon di 0271 – 697010 atau faksimili di 0271 – 697451.

Salah Satu Tanaman Obat di Etalase Tanaman Obat
Tak Cukup Sehari Mengunjungi Museum Jamu “Hortus Medicus” dan Etalase Tanaman Obat
Ketika saya dan seorang kawan berada disana, kami hanya sempat mengunjungi Museum Jamu dan Etalase Tanaman Obat. Dengan diantar seorang staf dari Balai Besar Litbang TOOT yang juga adalah teman kami, Museum Jamu “Hortus Medicus” menjadi tempat blusukan pertama kami. Museum jamu memiliki koleksi sejumlah bahan-bahan jamu yang disertai keterangan asal lokasinya, alat pengolah jamu, dan lain sebagainya yang masing-masingnya ditempatkan pada ruangan-ruangan. Ruangan tersebut antara lain Ruang Bahan Jamu, Ruang Budaya, Ruang Prestasi, dan Ruang Produk Jamu.  Selain itu, juga terdapat Ruang Naskah yang memuat koleksi buku-buku kuno (mulai dari jaman kerajaan Hindu-Budha hingga masa kolonial Belanda) yang dahulu digunakan sebagai buku resep pengobatan. Yang menarik perhatian saya dari koleksi Museum Jamu “Hortus Medicus” adalah koleksi kemasan jamu dari masa ke masa dan kumpulan tanaman berkhasiat yang telah diawetkan. Menurut saya koleksi dimuseum ini termasuk lengkap.


Selesai mengunjungi Museum Jamu, kami mengunjungi Etalase Tanaman Obat yang letaknya berseberangan jalan dengan kantor Balai dan Klinik Saintifikasi Jamu. Dengan diantar seorang staf dari Balai Besar Litbang TOOT, kami menyusuri setiap jalan setapak dimana dikanan-kiri jalan terdapat bermacam-macam tanaman obat berkhasiat. Semisal tanaman ganyong (Canna edulis Ker.) yang tepung umbinya berkhasiat untuk mengobati penyakit lambung. Ada juga tanaman rumput teki (Cyperus roduntus L.) yang bisa kita temui dihalaman rumah didesa ternyata berkhasiat untuk mengobati kejang perut dan sebagai peluruh air seni. Masih banyak tanaman berkhasiat lainnya yang menjadi koleksi di Etalase Tanaman Obat. Satu hari rasanya tidak cukup untuk memblusuki satu-persatu tanaman obat yang menjadi koleksi disini.

Selazimnya cuaca setiap harinya di bulan Desember, hujan yang terkadang deras dan terkadang rintik-rintik mengguyur jalan Raya Lawu, Tawangmangu di hari Rabu (30/12/2014) itu mengharuskan kami kembali ke penginapan. Meskipun belum sempat menyambangi kebun Tlogo Dlingo, kami merasa cukup puas dengan kunjungan dihari itu. Semoga di lain waktu, kami dapat mengikuti rangkaian wisata kesehatan jamu dan juga mengunjungi kebun Tlogo Dlingo.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi