Langsung ke konten utama

Buka Puasa di Kota Paris

Bulan Ramadhan tahun yang lalu (10 Ramadhan 1435 / 7 Juli 2014) saya dan seorang rekan kerja mendapat instruksi untuk dinas keluar kota. Tidak memblusuk ke pedalaman sih, hanya sekitaran kota saja, yaitu kota Paris. Wow! Di Perancis pak? Nggak. Bogor adalah kota yang akan dituju. 


Emang ada ya kota Paris di Bogor? Iya ada dong dan itu hanya sebutan saja karena menurut info online, pada jaman pemerintahan hindia belanda dahulu, didaerah yang sekarang disebut kota Paris ini tampilan daerahnya sangat indah dan mirip-mirip kota Paris. Maka jadilah orang hindia dulu menyebutnya De Staate Van Parijs. Informasi lainnya, pada jaman dulu di kota Paris ini banyak bertebaran kolam renang. Tapi selama disana, saya belum ketemu dengan satu kolam renang pun. Mungkin belum rejeki saya. Hehehe.


Tempat yang saya dan teman berkunjung yaitu sebuah pusat yang bergerak di bidang penelitian gizi dan kesehatan di jalan Sumeru. Daripada jauh-jauh mencari hotel atau penginapan diluar, kami pun menggunakan mess yang ada disediakan oleh kantor. Meskipun agak-agak menyeramkan, tapi saya menikmati saja karena disini masih banyak pepohonan besar otomatis yang tak kasat mata tidak akan merangsek masuk ke mess (karena mesti tetap berdiam di pohon) dan insyaAllah akan aman-aman saja.


Bernuansa Bambu
Menjelang adzan Maghrib, saya dan teman berencana untuk mencari makanan untuk berbuka puasa. Biasanya bila kami ke kantor yang di Bogor ini, kami tidak perlu mencari makanan keluar. Tapi karena waktu itu tidak ada acara dan kebetulan hanya kami yang menginap di mess, jadilah kami harus menyiapkan atau lebih tepatnya mencari makanan sendiri dengan cara keluar dari "sarang".

Bakmi Godog
Sate Maranggi dan List Menu
Menyusuri sepanjang jalan Semboja, bolak balik tetap saja belum ada warung makan yang sreg di hati. Ndilalah, setelah dirasa buntu mau makan apa, saya dan teman melihat sebuah warung makan yang letaknya tidak jauh dari pintu belakang kantor. Letaknya dipinggir sungai pula. Suasananya temaram dan "antik". Nuansa etnik dan bambu menjadi wajah dari warung makan ini. Nama warungnya "Saung Sisi Cai".
Penampakan Saung Sisi Cai Diambil dari Google Street View
Dari namanya pun sudah unik dan ajaib. Sekilas mungkin orang-orang akan mengira warung makan ini menawarkan chinese food? Padahal nggak sama sekali. Nama Saung Sisi Cai maksudnya bukan nama atau apalah yang terkait dengan tiongkok. Sisi Cai maksudnya adalah disebelah (sisi) sungai (cai; bahasa sunda).

Jenis menu makanan yang ditawarkan adalah jenis makanan-makanan warung tenda, seperti mie goreng, mie godog, ayam goreng, ayam penyet dan lain sebagainya. Untuk harga juga terbilang terjangkau. Jadi bila lain kali ke kota Paris, jangan lupa mampir ke warung makan pinggir sungai alias Sisi Cai. Hehehe.

Komentar

  1. Saya baru tau ada yg disebut kota Paris di Bogor...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama mas. Saya taunya Parijs van Java. Hehehe.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi