Langsung ke konten utama

Nyasar Makan Kupat Tahu dan Ngemall di Paragon Solo

Disela-sela kegiatan di gedung Diklat Universitas Negeri Solo (UNS), tanggal 17 Jumadil Tsani 1436 (6 April 2015), saya dan Tri iseng-iseng melepas ketegangan kerja dengan cara melakukan blusukan ke kota Solo. Penjelajahan kali ini blusukan menggunakan bus Batik Solo Trans. Alasannya sih bukan karena ingin merakyat, tapi karena kami memang belum pernah merasakan menggunakan BST sehingga ingin merasakan sensasi naik BST.
Bus Batik Solo Trans (BST) Nomor 02, Jurusan Palur - Kartasura
Dari depan kampus UNS, kami menyeberang jalan menuju halte BST Kampus UNS. Sebelum menyeberang jalan sebenarnya kami kebingungan mau naik BST yang nomor berapa dan naik dari mana. Kami sempat bertanya ke pedagang yang ada disana. Tapi jawabannya mengecewakan dan bikin mengernyitkan dahi. Jawabannya lebih mengarahkan kepada kami supaya naik ojek yang notabene merupakan salah satu obyekan orang yang kami tanya. Selintas dipikiran saya jadi mengendap, ternyata memang lebih enak jalan-jalan dan bertanya dengan orang-orang di Jogja daripada disini (terlepas dari becak Jogja ya).

Bagian Dalam dari Bus BST
Berbekal nekad, kami menaiki bus BST bernomor 02 yakni jurusan Palur - Kartasura. Dengan membayar Rp. 4.ooo per kepala, akhirnya kami merasakan juga bus primadona andalan Solo ini. Sekilas kalau menurut saya tampilan dalamnya mirip dengan bus Kopaja AC di Jakarta. Bedanya pada posisi kursi-kursinya. Bila di Kopaja AC, kursi-kursinya menghadap ke arah depan. Sedangkan bus BST kursi-kursinya memanjang disisi kanan-kiri (saling berhadap-hadapan). Yang uniknya dari BST, tiketnya bisa dibeli didalam maupun di halte yang menyediakan penjualan tiket.

Kupat Tahu Jalan Gajah Mada
Ayo mas Dibalik Dulu Itu.. Nanti Gosong Lho.. 
Mengikuti jalannya BST 02, kami memutuskan untuk turun di jalan Gajah Mada karena dari jendela BST kami melihat jejeran warung-warung. Lah sih? Iya, karena siang itu sudah masuk waktunya makan, maka warung-warung makan menjadi daya tarik tersendiri buat kami. Setelah turun dan kebingungan karena ternyata halte pemberhentian terletak sekitar 150 meter dari lokasi warung-warung yang kami lihat tadi. Alhasil kami harus berjalan kaki dengan menahan cuaca panas kota Solo. Alamaaak... Berjalan dipanasnya jalan Gajah Mada, terobati dengan nikmatnya Kupat Tahu. Tak pelak lagi hanya butuh waktu kurang dari 5 menit saja kami menghabiskan makanan yang komposisinya terdiri dari kubis, tauge, potongan bakwan, tahu, dan ketupat disiram kuah kacang itu.
Monumen dan Museum Pers

Setelah makan, justru kami jadi tambah kebingungan. Habis makan mau blusukan kemana ya? Dan kemudian kami pun berjalan kaki lagi hingga tiba di perempatan yang ada monumen dan museum Pers. Tambah bingunglah kami. Akhirnya diputuskan untuk menggunakan jasa becak dan diputuskan pula untuk menuju mall terdekat: Paragon Mall. Hanya butuh kurang lebih 20 menit menggunakan becak dari depan museum Pers hingga tiba di depan mall Paragon Solo.
Take Foto Dulu Disebelah Tiang

Take Foto Sebelum Balik ke Gedung Diklat UNS
Lah kok mallnya terhitung sepi ya. "Ini kan hari kerj mas bro", jawab Tri. Oh iya ya. Saya baru ingat ini kan hari Senin. Sementara waktu kunjungan kami ke mall ini tepat pukul 2 siang. Jadi ya wajarlah bila mall ini sepi.

Karena baru kali ini saya dan Tri menjejakkan kaki di Paragon Solo, kami pun berjalan-jalan saja melihat-lihat seisi mall tanpa tujuan dan tanpa membeli sesuatu pun. Cukup lama kami berada di Paragon Solo sebelum akhirnya beranjak pulang dengan menggunakan BST 02 (lagi). Ya begitulah turis lokal nyasar.

Komentar

  1. Pernah beberapa kali naik BST. Dulu baru ada 1 jalur. Sekarang katanya sudah 2 jalur. Semoga semakin lama semakin banyak jalurnya. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi kadan jalurnya diambil sama mobil pribadi mas. Jadi BSTnya kebingungan mau berhenti dan menurunkan penumpang.

      Hapus
  2. Wah, jadi kangen makan kupat tahu Solo. Waktu saya masih tinggal di Solo, favorit saya yang di dekat Pasar Kembang, Jl. Dr. Rajiman. Tapi itu 15 tahun yang lalu yah ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah. Masih ada atau nggak ya mba yang jual kupat tahu solo itu di jalan Dr. Rajiman ?

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi