Langsung ke konten utama

Radio P2SC dan Kesenian yang Masih Bertahan

Yang terbersit di kepala saya ketika mendengar Radio P2SC adalah tentang bapak saya. Sejak saya usia masih timik-timik alias kanak-kanak, radio yang berada di frekuensi 936 AM ini sudah mengudara. Lho? Hubungannya dengan bapak-nya mas feb apa? Apakah bapak-nya mas feb direktur radio ini? Oh.. Bukan. Bapak saya merupakan salah satu penggemar radio ini dan setiap setiap minggu pasti Bapak saya datang ke stasiun radio ini.


Di jaman dulu ketika masih jaya-jayanya, sekitar tahun 1990an di aula stasiun radio P2SC sering diadakan latihan kebudayaan tradisional. Entah itu yang disebut latihan klenengan (gending jawa, nembang, sulukan, macapat), latihan ketoprak, latihan wayangan (khususnya wayang kulit). Ketika itu stasiun radio ini punya penggemar yang tidak sedikit. Mungkin karena belum banyak persaingan dengan televisi maupun internet ya. Sehingga radio ini menjadi salah satu (atau mungkin satu-satunya) yang menjadi hiburan bagi pendengar yang kebanyakan merupakan perantau dari jawa.
Dahulu, radio P2SC ini punya motto. "Radio Puspa Dwi (2) Swara Cipta, Seni Menjadi Prestasi - Radio Jawa!". Tapi kemudian seiring perjalanan waktu dan pergantian kepemimpinan, kata-kata"Radio Jawa!" dihilangkan. Gak tahu apa sebabnya. Mungkin karena kata-kata sebelumnya terkait "Seni" yang bukan hanya dari jawa saja. Melainkan dari Aceh, Padang, Sumatera Utara dan lain sebagainya yang disiarkan dari stasiun radio ini.

Suatu kali saya pernah mencoba "memantau" siaran radio ini. Ternyata radio ini memang konsisten dengan mottonya. Dari dulu hingga sekarang masih menyiarkan seni dari berbagai daerah. Hanya saja, spot untuk seni jawa agak berkurang.

Berlokasi di seberang pintu air jemir alias jembatan miring, mungkin radio tertua di daerah Kemayoran bisa disematkan kepada radio P2SC. Bisa jadi, radio-radio yang menyiarkan campursari, gending jawa, wayang dan sebagainya di Jakarta terinspirasi dari radio P2SC ini. Kalau di frekuensi FM, ada RKM (Radio Kayu Manis) yang menyiarkan seni jawa. Selama kurun waktu tahun 90-an hingga awal tahun 2000, dari frekuensi AM hanya radio P2SC ini yang menyiarkan seni daerah. Jadi boleh lah bila dikatakan radio P2SC ini juga sebagai pionirnya.

Saya masih ingat sekitar tahun 2001, saya diajak almarhum Bapak ke aula radio P2SC. Ternyata disana banyak sekali alat musik tradisional khususnya set gamelan. Kalau sekarang masih ada atau tidak ya alat-alat musik tersebut.? (Aula tampak depan dapat dilihat melalui street view disini)
Melihat di era saat ini, televisi dan internet menjadi hal yang wajib ada disetiap rumah. Akan bertahan berapa lama radio berada disetiap rumah, khususnya radio P2SC ini? Apalagi kini makin banyak radio (terutama di frekuensi AM) yang menyiarkan program acara mirip-mirip dengan radio P2SC. Mungkinkah bertahan? Terlepas dari itu semua, radio P2SC dan kesenian akan menjadi legenda dan legenda itu masih akan terus bertahan di hati para pendengarnya kelak...

#video tahun 2014 kegiatan kesenian di radio P2SC



Komentar

  1. Saya kurang akrab sama P2SC ini Mas Feb. Dulu pas di Jakarta semasa SMA saya malah senengnya dengerin Elshinta. Klo menurut saya sih pangsa untuk radio masih tetap eksis. Klo lg di dalam mobil gitu pasti nyetelnya radio.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Umumnya yg akrab dgn radio P2SC ini dr kalangan sepuh mas. Karena nyetelnya program acara traditional semacam gending jawa, campursari, dan sejenisnya. Untuk radio masih bs bertahan, tp mungkin semakin berkurang ya..

      Hapus
  2. Sekarang; September tahun 2020, radio P2SC ternyata masih tetap eksis (di band AM/MW).

    BalasHapus
  3. Sekarang Oktober 2020 radio P2SC tidak hanya eksis di frekensi AM tetapi juga acara menyiarkan lagu Koes Plus dengan nama acara AK P .. masih berjalan, sejak beririnya tahun 1978.

    BalasHapus
  4. Mendengar radio p2sc jadi teringat akan cerita kedua orang tua yang bertemu dan berjodoh karena sering mengunjungi radio ini

    BalasHapus
  5. Selamat malam ijin tanya radio P2SC bisa didengar viaHP tidak ya yg tanpa Headset.
    Saya kelahiran Jakarta hingga tamat kuliah saya masih dijakarta saat saya SMA tiap Minggu orang tua saya pasti nyetel uyon uyon Ki Condro Lukito dan penyiarnya BPK Barkah jika saya tida lupa. Acaranya Jan 09.00 pagi.
    Nah mbok acara uyon uyon Jawa cengkok ngayogjokarto di aktifkan lagi.
    Saat ini saya tinggal di Surakarta (solo).
    Saya rindu mendengarkan radio ini lebih lebih uyon uyon nyamlengnya alm Bu Condro Lukito atau ibu Sri Retno diwati.
    Mohon infonya nggeh boss.
    (Dari saya pak Kanta. Solo.)
    Matur sembah nuwun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya siaran radionya P2SC belum ada streamingnya pak. Jadi belum bisa didengarkan via hape. Demikian pak. Terima kasih sudah mampir di blog ini. Nuwun.

      Hapus
  6. Banyak kenangan di studio radio F2SC, dulu thn 1998 - 2005 msh sering main ke sana kalau hr minggu, ada penyiar andalan sy , kang Purnama, kang Atta, Teh Neng, Teh Tita Sukabumi , Pak Sobirin dll, sering jg ikut latihan gamelan Sunda bersama Paguyuban Sunda Jakarta , malah sempat bbrp kali pentas di ultahx P2SC, salam kangen buat seluruh pengurus, penyiar dan fans setia P2SC Jkt (Seni Menjadi Prestasi) smg sehat selalu dan tetap mengudara menjadi corong budaya.....🙏🙏🙏

    BalasHapus
  7. Acara favorit di Radio P2SC versi saya adalah pemutaran khusus lagu-lagu Soneta Bang Haji Oma Irama, setiap hari sabtu dan minggu pasti saya pantau acaranya sampai tuntas....

    BalasHapus
  8. Alhamdulillah saya kenal P2SC lewat lagu lagu Koes Plus. Sama ada jawatimuran yang khas Pembawa acaranya mbak Ayu Ning Tuti Parisin kalo di RKM ada Bung Sam dan Mbak Yulia.

    BalasHapus
  9. yang mau mendengarkan radio p2sc via radio ini saja, radio am sw hf dll, semoga bermanfaat http://swloi33.proxy.kiwisdr.com:8073/

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi