Langsung ke konten utama

Ngulik Batik Papua dari Ilham Hingga Aneka

Di hari yang kedua (13 Desember 2011) masih di Jayapura, setelah kembali dari kantor sebelum Maghrib saya kembali keluyuran sendirian lagi. Kali ini saya menyusuri jalan Percetakan Negara. Ternyata disana ada sebuah toko yang menjual oleh-oleh khas Papua, sebut saja batik papua. Batik yang biasanya bermotifkan burung cendrawasih dan tifa ini dihargai mulai dari harga 60 ribu hingga 200 ribuan. Tergantung jenis bahan dan corak warnanya.

Bukit Jayapura City

Sudut Jalan Masuk ke Jalan Percetakan Negara
Selain batik tentu saja ada gantungan kunci, kaos, sandal, dompet, yang kesemuanya menggunakan motif burung cendrawasih dan tifa. Dan tak lupa juga ada koteka dan miniatur koteka. Karena saya pikir lebih mudah bila membeli kain dan kaos daripada yang lainnya, saya hanya membeli dua jenis barang tersebut.
Ragam Batik dan Cinderamata di Toko Batik Ilham
Dengan masih menenteng hasil pembelian cinderamata, saya masih menyempatkan diri jalan-jalan sepanjang jalan Percetakan Negara. Di salah satu sudut jalan Percetakan Negara rupanya ada pasar tradisional. Tapi saya belum sempat menjelajahi pasar tersebut.

Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 7 wib yang berarti sudah pukul 9 waktu Jayapura. Saatnya kembali ke penginapan untuk mempersiapkan diri buat kegiatan esok hari.

Hari Terakhir di Jayapura
Di tanggal 14 Desember, yang merupakan hari terakhir saya dan rekan-rekan di Jayapura, merupakan hari yang boleh dikatakan agak lebih longgar karena pekerjaan kantor sudah dikebut pada hari sebelumnya. Sehingga tidak seperti hari sebelumnya yang pulang pukul 5 sore, dihari ini saya dan rekan-rekan bisa keluar pukul 14.34 waktu setempat dan diajak berkeliling berburu batik oleh om Jan. Menurut om Jan, toko batik yang seringkali dikunjungi oleh para wisatawan yang ke Jayapura adalah toko Aneka Batik yang berlokasi di jalan Halmahera. Letaknya agak lumayan sih bila dilakukan dengan berjalan kaki dari hotel Matoa.

Di Toko Aneka Batik
Di toko Aneka Batik ini koleksi batiknya lebih lengkap bila dibandingkan dengan toko Batik Ilham. Wajar juga karena toko Aneka Batik ini lebih besar. Dan tentunya berdampak pada tingkat harga batik-batik yang dijual. Disini harga jual batik lebih mahal tapi pembeli bisa lebih leluasa memilih varian batiknya.
Varian Batik di Toko Aneka Batik
Sementara ibu-ibu sibuk berbelanja, saya cukup lah hanya melihat-lihat saja. Ambil beberapa foto motif kain batik yang menarik. Ini hari terakhir di Papua, sebisa mungkin saya menikmati sisa waktu di Jayapura ini sebelum besok paginya kembali ke Jakarta...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi