Langsung ke konten utama

Bukit Polimak dan Dari Koteka Hingga Tifa di Pasar Hamadi

Berbekal tiket pesawat tanggal 1 Agustus 2013 siang waktu setempat, saya dan teman-teman akan kembali ke Jakarta. Tetapi sebelum tiba di bandara Sentani, kami sudah janjian dengan om Jan untuk mengantarkan kami mencari cinderamata khas Papua.

Kota Jayapura dari atas Bukit Polimak
Jam di lobi hotel menunjukkan pukul 6 lebih 30 menit. Di tempat parkir depan hotel, om Jan dan mobilnya sudah bersiap mengantar kami ke bandara Sentani. Udara di pagi itu lumayan teduh, tidak terlalu dingin tapi juga tidak terlalu panas. Tak seperti biasanya memang. Mungkin karena dini hari tadi ketika kami sahur, diluar turun hujan yang walaupun tidak deras tapi cukup untuk membuat hawa panas pelabuhan menyingkir dari kota Jayapura.
Pemandangan Kota Jayapura dari Bukit Polimak - 2013

Kami sebagai serombongan 'turis' yang berasal dari Jakarta tentunya penasaran dengan penampakan kota Jayapura bila dilihat dari atas bukit diseberang yang terlihat dari Cafe Cirita kemarin sore. Om Jan pun menyetujui untuk membawa kami menggunakan mobil minibusnya ke atas bukit dimana tulisan 'Jayapura City' berada.

Selama perjalanan, kami semua berbincang dengan om Jan yang meskipun sambil menyetir mobil tak berkeberatan menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Dari obrolan selama 20 menit itulah kami pun tahu bahwa bukit yang akan kami sambangi bernama bukit Polimak. Dengan ketinggian sekitar 250 mdpl, bukit ini menjadi daratan tertinggi di kota Jayapura. Dari ketinggian ini, kita dapat melihat wajah kota Jayapura.
 Penampakan bukit 'Jayapurawood' dari Cirita Cafe - 2013

Tak lama kemudian kami tiba di bukit Polimak. Hening memang disini. Angin pun nikmat sepoi-sepoi terasa. Karena masih pagi, wangi embun yang basah masih bisa dirasa. Diatas bukit ini aktivitas di pelabuhan dok II bisa terlihat. Walaupun matahari belum segalak siang nanti, beberapa kapal tongkang sudah hilir mudik disana.

Menurut keterangan dari om Jan, bukit Polimak biasanya juga disebut sebagai 'Jayapurawood'. Alasannya sih sederhana, katanya karena di bukit ini terpampang huruf-huruf yang menyusun kata 'Jayapura City' serupa dengan tulisan 'Hollywood' di Amerika sana.

Perjalanan Berlanjut ke Hamadi
Setelah puas menikmati pemandangan wajah kota Jayapura dan berfoto di bukit Polimak, perjalanan kami berlanjut. Tujuan berikutnya adalah pasar oleh-oleh yang jaraknya sekitar 3 kilometer di selatan kota Jayapura, yakni di daerah Hamadi. Menurut pengakuan om Jan yang sering kali mengantarkan tamu-tamu yang berkunjung ke Papua, pasar Hamadi merupakan pilihan paling lengkap bagi para tamu yang ingin membeli oleh-oleh khas Papua. Mungkin kalau saya boleh mensejajarkan dengan di Yogyakarta adalah sejajar dengan pasar Malioboro. Jika di Malioboro banyak berjejer pedagang suvenir khas kota Yogya, maka di pasar Hamadi ini banyak berjejer toko yang memamerkan barang dagangannya yang merupakan suvenir khas Papua.

Jalan Utama di Pasar Hamadi - 2013

Banyak Toko Suvenir di Pasar Hamadi
Disini kita bisa menjumpai beraneka bentuk ragam hias dan benda khas Papua. Semisal koteka yang disetiap toko ada, digantung di langit-langit toko. Atau bila kita minat dengan alat musik, disini juga ditawarkan tifa, alat perkusi khas Papua. Selain sebagai toko tempat memamerkan barang dagangan, toko-toko di pasar Hamadi juga berfungsi sebagai workshop bagi pengrajin patung-patung khas suku Asmat. Meskipun tidak asli buatan suku tersebut, kita bisa melihat proses pembuatannya mulai dari kayu yang kemudian diolah hingga diukir dan dicat menyerupai patung asli buatan suku Asmat. Menurut penuturan para pemahat, kayu yang digunakan untuk patung adalah kayu susu (Alstonia beatricis). Entah itu benar-benar asli kayu susu atau tidak, karena sepengetahuan saya kayu susu sudah termasuk jenis tanaman langka di Indonesia. 
Pemahat Patung Khas Asmat - 2013
Ketika kami disana, terdapat beberapa toko suvenir kami masuki. Yang dijumpai disetiap toko hampir 98% sama. Mulai dari bentuk barang, kualitasnya hingga harganya. Kemungkinan para pedagang disini sudah saling bersepakat mengenai suvenir yang dijual dan juga harganya. Menurut penuturan dari salah seorang penjaga toko, suvenir yang sering dicari dan dibeli oleh wisatawan adalah gantungan kunci khas Papua. Saya bisa memaklumi karena untuk membeli suvenir selain gantungan kunci, seperti patung Asmat maupun koteka, isi dompet kita akan terkuras. Belum lagi kerepotan saat membawanya melintas pulau melalui bandara. Saya pun juga akhirnya hanya membeli beberapa gantungan kunci berbentuk miniatur koteka sebagai buah tangan. Minimal saya juga membawa suvenir berupa koteka walaupun hanya 'mini' koteka. Hahahaha..
Berbagai Suvenir Khas Daerah Papua - Pasar Hamadi 2013

Kembali...
Setelah kurang lebih satu jam disana, kami pun harus kembali melanjutkan perjalanan ke bandara Sentani. Selama perjalanan, saya sempat menyapu pandangan keluar jendela mobil. Pohon-pohon Matoa yang besar-besar memayungi jalanan. Mendekati wilayah Sentani, pemandangan danau yang luas menyuguhkan betapa luar biasa alam di bumi Papua ini.  Dari sana saya kembali menyadari bahwa saya dan rombongan baru saja meninggalkan sebuah kota yang berada disebalik bukit-bukit dan danau. Seumpama harta karun, kota Jayapura merupakan mutiara hitam yang tersembunyi. Kota Jayapura, kota yang selalu meninggalkan kesan setiap kali dikunjungi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi