Langsung ke konten utama

Selintas Lalu di Gerbang Kia-Kia, Surabaya

Sudah  sedari jalanan di depan Pusat Grosir Jembatan Merah saya dan mas Djun, teman seperjalanan saya ketika di Surabaya tanggal 4 Februari 2013 yang lalu, melangkahkan kaki. Sebelumnya, kami menggunakan angkot dari jalan Indrapura hingga akhirnya tiba di jalan dekat jembatan yang dialiri oleh air Kali Mas ini. Tiba di tempat ini kami bingung pada sore hari itu hendak ke mana. Alih-alih meneruskan untuk kembali naik angkot, kami terus berjalan kaki hingga tiba di sebuah tempat bernama "Kya Kya".
Gerbang Kya Kya Arah dari Jembatan Merah

Pertama kali tiba di depan gerbang Kya Kya, saya melihat ada satu gapura besar nan kokoh berwarna merah khas Negeri Tirai Bambu. Di kanan-kiri gerbang terlihat patung kilin yang dibuat dari batu (entah batu apa) berwarna krem, bersiaga seakan-akan sedang berjaga. Sedangkan di bagian atap gapura, terdapat dua patung ular naga yang seakan-akan sedang berjalan dari arah kanan kiri atap gapura ikut menambah kesan meyakinkan bahwa kita sedang berada di pecinan.

Atap Gerbang Kya Kya
Menurut mas Djun, yang sudah kesekian kalinya datang ke Surabaya, keramaian bisa kita temukan di Kya Kya ini bila malam tiba. Nama ngetopnya daerah sini adalah "Kya Kya Kembang Jepun". Bila di Jakarta ada Passer Baroe dan di Semarang ada Pasar Semawis, maka di Surabaya ada Kembang Jepun yang disebut juga kawasan Pecinan di Surabaya.

Kilin Penjaga Gerbang

Mungkin karena melihat saya asyik masyuk dengan "suguhan" bangunan-bangunan jadul disekitar gerbang Kya Kya, mas Djun menyibukkan diri dengan handphone-nya. Sejurus saya memperhatikan mas Djun yang berulang kali berbicara sendiri, ya mungkin sedang menelpon istrinya. Saya kembali asyik memperhatikan gerbang Kya Kya dan beberapa bangunan jadul di kawasan ini.

Salah Satu Bangunan Jadul
Sepanjang Jalan Kembang Jepun Banyak Sekali Bangunan Jadul
Tak jauh dari gerbang Kya Kya, ada jembatan yang menghubungkan jalan Rajawali dengan jalan Kembang Jepun (jalan dimana Kya Kya berada). Jembatan ini biasa disebut jembatan merah, mungkin karena memang pagar di kanan-kiri jembatan berwarna merah. Atau mungkin karena ada sejarah disebalik penyebutan jembatan merah. Entahlah. Mungkin pembaca ada yang lebih tahu tentang sejarah penyebutan jembatan merah ini?


Dari atas jembatan merah ini, saya melihat ada beberapa anak yang asyik main di sungai. Bila diperhatikan, sepertinya mereka bahagia sekali. Sungai Kali Mas yang berwarna keruh kecoklatan itu seakan-akan menjadi arena kolam renang bermain mereka. 
Anak-Anak Asyik Bermain di Sungai Kali Mas
Setengah jam kemudian, saya dan mas Djun melanjutkan perjalanan menuju tugu Pahlawan untuk mencari bebek goreng ngetop yang sudah lebih dahulu saya tulis di artikel "". Meskipun saya belum sempat melihat keramaian Kembang Jepun diwaktu malam, saya sudah bisa membayangkan eksotisme suasana pecinan dengan berada di Gerbang Kya Kya meskipun hanya selintas saja. 

Komentar

  1. saya seneng gedung2 di kota tua seperti ini ... kalau dikelola rapi dan bersih .. pasti sangat menarik ... belum ada kota2 di indonesia yang mengelola kota tuanya dengan baik .. jakarta aja baru rencana dan baru mau mulai ... tapi sudah mendinganlah dari kondisi2 sebelumnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dikelola dgn baik dan dijaga oleh semua masyarakat. Jgn sampai sdh dikelola dgn baik tapi masyarakatnya tidak tumbuh kesadaran untuk mnjaganya. Yg simpel, jgn buang sampah sembarangan. Gitu kayaknya. Hehehe.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi