Langsung ke konten utama

Menyegarkan Otak di Kolam Pemancingan Kendalisodo, Blater

Jika bicara tentang daerah Ungaran, hal yang sering terbayang dalam pikiran saya adalah daerah pegunungan dan candi Gedong Songo. Tapi jangan salah, pada awal bulan Februari 2016 yang lalu saya diajak oleh mbahnya Zidni ke sebuah tempat yang menurut saya gak akan didapatkan di daerah Jakarta. Entah jika didaerah lain mungkin ada. 
Patung Ikan Pemancingan Kendalisodo
Agro Wisata Mina Kelompok Pemancingan Ngudimulyo
Selain enak digunakan sebagai tempat melepas penat, tempat yang satu ini juga mantap sebagai tempat menyegarkan otak dan cuci mata. Tujuan utamanya sih sebenarnya ingin mengajak Zidni melihat ikan-ikan yang ada dikolam pemancingan. Tapi yo mosok ke kolam pemancingan cuma nonton ikan saja atau cuma duduk-duduk saja. Tidak afdhol jika tidak sekalian mencicipi ikan bakarnya. Karena saya masih polos saya pun ikutan saja.
Ke Semarang 25 Km, ke Bandungan 5 Km
Kolam pemancingan yang kami tuju ada didaerah Blater - Jimbaran, Bandungan. Kolam pemancingan Kendalisodo namanya dan masih masuk dalam kelompok pemancingan Ngudimulyo. Pemancingan Kendalisodo ini mudah dikenali karena ada patung ikan besar yang nangkring disebelah gerbang masuknya. Di pemancingan Kendalisodo ini terdapat 3 buah kolam pemancingan. Ikan-ikan yang ada disini adalah ikan-ikan air tawar. Pengunjung bisa menggunakan kolam pancing ataupun memesan langsung ikan yang sudah disediakan oleh pengelola untuk diolah.

Ini Bisa Kita Lihat Berada Persis Disebelah Pemancingan



Untuk mencapai kolam pemancingan ini, arah masuknya dari jalan besar Semarang-Surakarta (Bergas) ikuti arah jalan Ungaran-Bandungan. Nanti ketemu dengan jalan Jimbaran. Sebenarnya didaerah ini memang banyak yang membuka usaha kolam pemancingan. Bila pembaca berkesempatan main ke jalan Jimbaran, dikanan-kiri jalan akan melihat hamparan sawah yang bersebelahan dengan kolam pemancingan.
Tempatnya Lumayan Luas

Bisa Gemuk Kalau Makan dengan Suasana Seperti Ini

Seandainya saja ya di Jakarta ada kawasan seperti ini. Mungkin... . Eh tapi di daerah Cakung Kayu Tinggi memang ada kolam pemancingan, hanya saja pemandangan sekelilingnya kurang mendukung untuk mendapatkan suasana segar seperti daerah Blater ini. Ya tapi lihat sisi lainnya juga. Semisal di Jakarta ada kolam pemancingan yang bisa bikin refreshing buat orang-orang kantoran, maka pada hari-hari kerja di kantor bakalan sepi.. Hehehehe.

# ditulis di kamar 231 lantai 3 Hotel Swissbel Airport
Sementara sedang hujan deras disertai angin diluar... 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi