Langsung ke konten utama

Mencoba Sop Betawi di 'Warung Soto, Sop Betawi Dan Sate Tegal Pak Kumis', Percetakan Negara Jakarta

Merasa bingung ternyata bukanlah sesuatu yang buruk. Contohnya ketika saya tengah bingung saat makan siang ingin makan apa dan dimana. Siang hari dimana cuaca panas di tanggal 18 Februari 2016, mungkin akan membuat orang lain berpikir dua kali untuk berjalan kaki menjelajah jalanan di Percetakan Negara Jakarta. 
Ini Warungnya 
Setelah berjalan kaki sekitar 15 menit dari kantor di jalan Percetakan Negara nomor 29, saya tergerak untuk masuk ke sebuah warung soto yang sebenarnya sudah berkali-kali saya lewati. Tapi baru kali ini saya masuk ke dalam dan memesan makan disana. Nama warungnya 'Warung Soto, Sop Betawi Dan Sate Tegal Pak Kumis'. Cukup panjang ya (bisa dicek di google plus punyanya warung soto ini). Meskipun demikian, yang jualan justru tidak berkumis, bahkan bukan bapak-bapak! Yang berjualan adalah ibu-ibu. 
Ini List Harga dan Menunya
Saya sebenarnya kurang tahu mengenai sejarahnya kenapa warungnya demikian panjang namanya. Dan saya juga kurang tahu mengapa yang jualan malah ibu-ibu padahal jelas-jelas di nama warungnya ada nama Pak Kumis. Dan saya juga cukup penasaran seperti apa rupa dari sop betawi seperti yang dipampangkan nama menunya di spanduk depan warung ini. 
Sop Daging Bening
Ini Asinannya yang Bikin Beda
Dengan memesan satu porsi sop betawi yang harus ditebus sebesar Rp. 25.ooo sahaja dan dengan harga segitu sudah termasuk nasi serta teh tawar hangat, saya pun akhirnya mengerti. Yang membedakan sop betawi dengan sop-sop lainnya ternyata pada sop betawi ini ada dilengkapi asinan sayur yang diletakkan dipiring terpisah ukuran kecil. Hmm. Segar memang. Tapi kalau menurut saya, asinan disini mungkin maksudnya sebagai pereda panas dari sop yang disajikan. Karena sopnya isinya daging sapi dan lebih enak disajikan saat masih mengepul uapnya. Sementara asinan yang disajikan saat saya cicipi rasanya dingin-dingin segar. Bahkan rasa pedas dilidah bisa hilang seketika setelah saya mengecap rasa asinannya. Tapi entahlah. Hanya tebak-tebakan saya saja. Yang pasti sopnya enak. Hehehe. 

#Selesai ditulis di kamar 231 Hotel Swissbel Airport
Sementara diluar hujan dan baru saja reda
#Dipublikasikan hari Jumat tanggal 4 Maret 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi