Langsung ke konten utama

Duel Mie Aceh: Pidie 2000 VS Bang Midi

Seorang teman pernah bertanya kepada saya, "Mas Feb, kok blognya isinya kuliner muluw? Lagi banyak duit ya?".

Ya gimana ya.. Bukan lagi banyak duit dan sebenarnya sih bukan juga kuliner melulu. Bisa jadi teman saya pas berkunjung ke blog saya pas edisi kulinernya nongol didepan. Bisa juga pas teman saya berkunjung sedang tertarik dengan kuliner sehingga waktu searching-searching yang nongol ya tentang kuliner. Padahal ya banyak juga postingan di blog ini yang isinya tentang jalan-jalan maupun tentang review. Lagi pula saya posting tentang kuliner sebenarnya juga untuk membantu teman-teman yang barangkali berkunjung ke suatu daerah yang sama dengan yang pernah saya kunjungi sehingga bisa icip-icip juga. Selain itu postingan tentang kuliner juga membantu pengusaha lokal untuk menyebar luaskan informasi tentang jualannya. Iklan gratis lah.




Di postingan kali ini kebetulan temanya kuliner lagi. Boleh disebut edisi duel kuliner dengan menu utama adalah Mie Aceh. Duel Mie Aceh antara Mie Aceh Pidie 2000 versus Mie Aceh Bang Midi.

Dalam suatu kesempatan di minggu kedua bulan April, saya pernah menjelajah jalan Margonda, Depok dan menemukan sebuah kedai bertajuk Mie Aceh. Namanya Mie Aceh Pidie 2000. Angka 2000 disini ternyata gak ada sangkut pautnya dengan harga apalagi nomor jalan dimana kedai ini berlokasi. Angka tersebut hanya melambangkan bahwa kedai ini lahir di millenium baru atau sekitar tahun 2000-an didirikan oleh si empunya yang berasal dari kabupaten Pidie di Aceh.


Para pekerja di kedai Mie Aceh Pidie 2000 ini adalah mbak-mbak yang umurnya menurut taksiran saya usia 20-an tahun. Mungkin mahasiswa sekitaran kampus-kampus di Depok. Menggunakan seragam kaos biru serupa dengan warna deretan tabung gas di kedai tersebut. Bila kita memasuki kedai, kita bisa melihat para mbak ini sedang memasak pesanan pengunjung. Meja kasir bersebelahan dengan tempat mereka memasak. 


Ketika itu saya memesan satu porsi mie goreng dan jus belimbing. Ada sepertinya 15 menit untuk menunggu hingga Mie Aceh-nya terhidang dimeja. Dari aromanya sangat kental dengan aroma rempah khas Mie Aceh. Saya diberikan dua piring. Piring pertama adalah mie-nya dan piring kedua adalah kelengkapannya seperti mentimun, kerupuk melinjo (emping), cabai rawit, dan bawang merah mentah yang tidak diiris sempurna. Komposisi dari Mie Acehnya sendiri ada mie, bawang goreng, daging, kubis, dan daun bawang. Karena ini mie goreng, jadinya ya tanpa kuah dan disini terkesan kering. Soal rasa, bila saya beri interval dari 1-10, maka Mie Aceh Pidie 2000 ini mendapatkan 6,5. Untuk harga, seporsi Mie Goreng khas Aceh ini dihargai Rp. 21.ooo dan jus belimbingnya Rp. 8.ooo Sehingga total Rp. 29.ooo.

Lain Mie Aceh Pidie 2000, lain pula mie aceh di kedai Bang Midi. Sepulang kerja yang kemalaman, kedai berlokasi di jalan Tanah Tinggi Barat No 5 Galur ini menarik minat saya untuk mampir. Mie Aceh Midi Cabang RSUD Pasar Rebo, begitu papan namanya tertulis. Di kedai ini menyediakan berbagai olahan mie aceh, martabak, kopi, nasi goreng hingga sop durian. 



Di kedai ini yang menjadi penanggungjawab adalah adik dari si pemilik. Sementara bang Midi, si pemiliki kedai, lebih banyak berada di cabang Pasar Rebo. Lokasinya di daerah Galur ini terbilang strategis. Tak jauh dari persimpangan jembatan Galur. 



Pada kesempatan di awal bulan Mei di kedai bang Midi itu, saya memesan secangkir Kopi Aceh dan seporsi Mie Aceh Seafood. Baru pertama kali di kedai itu, membuat saya penasaran dengan rasa mie acehnya. Jangan sampai rasanya mengecewakan. Sekitar 15 menit kemudian hidangan pun datang. Pertama yang saya coba adalah kopi acehnya. Sluuurrrp.. Ah.. Sedap beneeerrr... . Ternyata memang benar Kopi Aceh. Bukan sekedar kopi dari Aceh, tapi juga racikannya yangmembuatnya khas. Kemudian mencicipi mienya. Komposisinya ada mie, kacang tanah, udang, potongan cumi, tauge, dan irisan daun bawang. Sama halnya dengan kedai Mie Aceh Pidie 2000, disini pun diberikan dua piring. Piring pertama untuk mienya dan piring kedua pelengkapnya. Pelengkapnya mirip dengan Mie Pidie, tapi bedanya pada irisan bawangnya yang teriris sempurna. 

Dari segi rasa, Mie Aceh Midi ini bisa mengobati rasa kangen akan mie Aceh asli yang pernah saya cicipi. Sehingga bila diberi nilai interval 1-10, mie ini mendapatkan nilai 8,5. Untuk harganya menurut saya sebanding dengan kepuasan yang kita dapat setelah bersantap disini. Seporsi Mie Aceh Seafood seharga Rp. 30.ooo dan Kopi Acehnya seharga Rp. 9.ooo. Jumlah totalnya jadi Rp. 39.ooo, 

Akhirnya kembali lagi kepada pembaca, bila ingin harga mahasiswa, bisa coba yang di kedai Mie Aceh Pidie 2000 di Margonda Depok. Sedangkan bila ingin nostalgia dengan rasa Mie Aceh asli, bisa coba datangi Mie Aceh Midi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi