Langsung ke konten utama

Laju Bemo di Hiruk Pikuk Kemacetan Jakarta

Pembaca ada yang pernah naik bemo? Belum? Saya pernah sekali naik kendaraan unik nan jadul ini saat berada di daerah Bendungan Hilir. Sekarang memang sudah agak sulit untuk menemukan saudara kembar tak serupa si Bajai ini. Karena memang sudah dilarang beredar di Jakarta, sehingga angkutan umum beroda tiga ini tidak bisa ditemukan di sembarang tempat. Hanya tempat-tempat tertentu saja. Yang saya ketahui misalnya ya di Bendungan Hilir. Lalu ada juga di daerah Rawa Terate Jakarta Timur dan daerah Matraman-Manggarai-Salemba.
Penumpangnya Sedang Melamun

Dikutip dari websitenya asal-usul[dot]com, ternyata nama bemo merupakan akronim dari BEcak MOtor. Mulai dipergunakan di tahun 1962 di Jakarta dalam rangka memeriahkan peristiwa olahraga, Ganefo. Masih menurut asal-usul[dot]com, bemo ini ternyata berasal dari pabrikan otomotif Jepang, yaitu Daihatsu! Dipasarkan di tahun 1957 dan diberi nama Daihatsu Midget. Untuk sejarah lengkapnya bisa klik di sini.
Masih Mulus Bemonya
Disuatu sore setelah pulang kerja, saya iseng memilih jalur pulang tidak seperti biasanya. Kali ini saya pulang melalui jalan Salemba ke arah jalan Proklamasi untuk kemudian mengarah ke Menteng dan tembus hingga Gambir. Selama melewati jalan Salemba Raya hingga jalan Proklamasi, saya mendapati sebuah bemo beroperasi. Meskipun terbilang kendaraan jadul, tapi bemo yang saya temui sudah diperbaharui tampilan karoserinya. Mulus!! Karena sore itu merupakan jam pulang kantor, maka penumpang yang naik bemo juga lumayan penuh. Bemo ini mampu menampung tujuh orang penumpang. Enam orang bisa duduk di belakang dan seorang lagi bisa menemani pak sopir di kursi depan.
"Menantang" Kendaraan Umum Lainnya di Kemacetan Kota
Seiring dengan berjalannya waktu, bemo pun berbelok ke arah Manggarai sementara kendaraan yang saya tumpangi berbelok ke arah Menteng. Sekilas saya melihat kebelakang dan perlahan wujud bemo itu pun hilang ditelan hiruk pikuk kemacetan kota Jakarta. Bagi pembaca yang belum pernah merasakan sensasi naik bemo, boleh dicoba datang ke Salemba atau Manggarai. Mumpung belum benar-benar punah seperti helicak.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi