Langsung ke konten utama

Menikmati Gule Kambing Pak Sabar Kampung Bustaman Semarang

Letaknya memang kurang strategis. Apalagi bentuk warung tendanya. Bila pembaca seorang pemilih seperti salah seorang teman saya, mungkin gak akan mau mampir ke warung tenda sederhana ini. Tapi bila pembaca browsing di internet, nama Gule Kambing Pak Sabar Kampung Bustaman Semarang adalah satu nama yang ngetopnya ampun-ampunan. Saking terkenalnya, banyak warung tenda yang menggunakan nama yang sama sehingga banyak yang berkunjung ke Semarang keliru mencicipi gule kambing pak Sabar yang asli.

Gule Kambing Pak Sabar yang orisinil hanya bisa dijumpai disekitaran objek cagar budaya Gereja Blenduk. Posisi warung tendanya berada berseberangan dengan pintu belakang Gereja Blenduk. Jika dikulik melalui internet, pak Sabar mulai berjualan sejak tahun 1969. Pada mulanya berjualan dengan cara dipikul berkeliling. Tapi sejak tahun 1974, pak Sabar mulai menetap menggunakan lokasi di kawasan Kota Lama belakang Gereja Blenduk. Kampung Bustaman sendiri merupakan kampung yang berada di kota Semarang yang terkenal sebagai pusat pemotongan dan pengolahan daging kambing.

Ini Tenda Warungnya

Pak Garbin sedang Meracik Pesanan Gule

Gule kambing yang ditawarkan di Warung Pak Sabar ini disajikan secara sederhana.  Bahan-bahan yang digunakan merupakan potongan-potongan daging dan jeroan kambing. Saat saya memasuki warung tenda, pak Garbin yang bertugas melayani dan meracik langsung menanyakan pada saya level rasa pedas dari gule yang akan diracik. Karena baru pertama kali kesini, saya bilang pedasnya yang sedang saja.  Ternyata pak Garbin meracik potongan jeroan dan cabai yang digunakan untuk rasa pedas langsung di piring saji. Setelah siap, semua bahan-bahan yang diletakkan di piring saji tadi disiram dengan kuah gule panas yang sudah bercampur bumbu rempah. Nyooosss..

Kuahnya berwarna agak kekuningan yang mungkin berasal dari bumbu rempahnya. Saat dicicipi, bau amis jeroan kambingnya memang gak terlalu. Mungkin karena bumbu rempahnya juga ya. Mengenai rasanya kalau menurut saya enak dan gak blenger. Bagi pembaca yang biasa makan dengan porsi besar, saat ke warungnya Pak Sabar akan terasa kurang nendang bila hanya dapat satu piring nasi. :D


Satu Porsi Gule Kambing dan Nasi

Potongan Cabainya
Pak Garbin sedang Mencuci Piring-Piring Kotor
Menghabiskan 29.000 untuk seporsi gule kambing plus sepiring nasi dan segelas teh tawar panas. Mahal? Ya memang. Bahkan menurut pak supir taksi yang saya tumpangi, Gule Kambing Pak Sabar memang menu kuliner gule paling mahal yang ada di kota Semarang. Mungkin karena namanya sudah ngetop dan pernah diliput oleh pencicip kuliner di televisi. Warung Gule Kambing Pak Sabar ini buka setiap hari dari pukul 08.00 hingga pukul 16.00. Menurut keterangan dari pak Garbin, warung ini juga buka saat libur nasional. Bila berkesempatan ke Kota Lama di Semarang, jangan lewatkan untuk mencicipi Gule Kambing Pak Sabar.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi