Langsung ke konten utama

Stasiun Bandung Gunakan Boarding Pass Untuk Penumpang KA

Stasiun Bandung menjadi yang pertama menggunakan lembar boarding pass (sistem check-in) bagi penumpang yang akan melakukan perjalanan menggunakan kereta api. Sistem baru ini mulai diuji cobakan di Stasiun Bandung sejak tanggal 22 Februari 2016. Hal detilnya baru saya ketahui di bulan Mei 2016 kemarin ketika membaca sebuah artikel di koran harian Semarang. Menurut artikel tersebut, sistem check-in juga bakal diberlakukan dibeberapa stasiun - utamanya wilayah Daop V. Stasiun dimaksud diantaranya: stasiun Kebumen, Gombong, Kutoarjo, Kroya, Prupuk.

Lembar Boarding Pass

Sedangkan pemberlakuan lembar boarding pass-nya sendiri saya alami pertama kali ketika saya berada di Bandung (28 April 2016). Saat akan pulang ke Jakarta setelah menempuh 3,4 km untuk mendapatkan tiket kereta hari itu, saya melihat di stasiun Bandung terdapat Check-in Counter. Kiranya apa ternyata setelah saya mencari tahu, counter tersebut merupakan tempat untuk mencetak boarding pass bagi penumpang kereta api yang akan melakukan perjalanan dari stasiun Bandung. Konsep check-in ini meniru konsep yang diterapkan kepada penumpang pesawat udara.
Check-In Counter
Untuk melakukan check-in dan mencetak boarding pass bisa dilakukan 12 jam sebelum keberangkatan. Rencana kedepan, tiket yang ada (lembar tiket berwarna biru) akan digantikan dengan lembar boarding pass. Jadi struk atm tidak digunakan untuk mencetak tiket biru, tapi bisa langsung digunakan untuk mencetak boarding pass dengan mengetikkan kode pembayarannya. Entahlah, belum ada pengumuman resmi dari PT. KAI di websitenya hingga tulisan saya ini ditulis. Update terakhir ketika saya mudik (2 Juli 2016) ke Semarang dari Stasiun Gambir, sistem boarding pass sudah diberlakukan. Tak sedikit yang kebingungan ketika sudah menunjukkan tiket biru tapi ternyata masih diarahkan untuk mencetak boarding pass. Meskipun Stasiun Gambir sudah memberlakukan sistem lembar boarding pass, tidak demikian di Stasiun Semarang Tawang. Ketika saya kembali ke Jakarta (9 Juli 2016), counter boarding pass belum ada sehingga lembar boarding pass tidak berlaku. Jadi belum ada keseragaman antar stasiun.
Standing Banner Prosedur Boarding Pass
Antrian Saat Mencetak Boarding Pass di Stasiun Bandung
Ada beberapa kekurangan dan kelebihan bila sistem boarding pass ini diberlakukan. Kelebihannya antara lain: lebih teratur, (mungkin) bisa untuk menghindarkan calo tiket, ngirit kertas (karena lembar kertas boarding pass mirip dengan struk ATM alias lebih tipis dari tiket biru). Sedangkan kekurangannya, yaitu: antrian untuk cetak boarding pass bakalan mengular saat akan keberangkatan, untuk pembatalan tiket belum jelas apakah melampirkan struk ATM atau boarding pass, aturan penggunaan boarding pass masih membingungkan karena belum ada sosialisasi.

Mungkin itu beberapa hal dan informasi yang bisa saya bagikan melalui tulisan ini. Harapan kedepan untuk pelayanan penggunaan kereta api lebih mengedepankan kemudahan dan kenyamanan penumpang ya. Perlu juga dibuka ke publik alur pemesanan tiket dari mana saja. Kenapa saat reservasi online melalui website KAI, tiket cepat sekali habis? Padahal mengakses webnya pun sulit bukan main dari jam 12 malam hingga pagi dan hal seperti itu saya rasakan saat saya memesan tiket mudik lebaran melalui web KAI.   




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi