Langsung ke konten utama

Trekking 2,2 Kilometer Sentra Dago Pakar - Terminal Dago

Tanggal 24 September 2016, setelah menyelesaikan pekerjaan di daerah Dago Pakar, Bandung, mas Feb melakukan perjalanan pulang. Dari Sentra Dago Pakar tidak ada kendaraan umum. Yang ada hanya ojek saja. Buka google Map ternyata eh ternyata, perjalanan dari Sentra Dago Pakar menuju Terminal Dago hanya membutuhkan hitungan menit saja. Mas Feb pikir akan lebih menarik nih bila melakukan trekking dari Sentra Dago Pakar hingga Terminal Dago.
Salah Satu Hotel yang Ada di Kawasan Dago Resort

Ojek yang Melintas didalam Komplek Dago Resort

Karena mas Feb jalan-jalan sendirian, jadi pertimbangan dan keputusan tidak diambil secara mufakat dan bersama. Jam delapan pagi setelah sarapan, mas Feb turun gunung sendirian. Kontur tanah di daerah Sentra Dago Pakar memang luar biasa. Naik turun jalanan di pagi hari bikin mata melek. Baru beberapa meter perjalanan, keringat sudah membanjir. Apalagi jalanannya banyakan yang menanjak bikin otot betis cenut-cenut.

Sedia Mie Ayam?

Bunga yang Ada di Dago Resort
Tapi bukan mas Feb namanya kalau harus sampai mengeluh cuma gara-gara trekking. Petualangan berlanjut dan mas Feb pun menikmati udara di pagi hari itu. Jarang-jarang bisa bebas seluas dan sedalam-dalamnya menghirup okisgen melonggarkan paru-paru. Berbeda dengan udara di Jakarta yang baru berapa langkah kita sudah bisa mencium bau asap kendaraan. Ya kan?
Pemandangan Alam di Dago Resort
Selama perjalanan trekking, banyak hal mas Feb tangkap melalui kamera hape. Ada pepohonan, buah-buahan, dan bunga. Bahkan ada yang unik-unik seperti papan penunjuk arah ke sebuah kedai mie ayam. Padahal didaerah sini tidak banyak orang yang wira-wiri lho tapi kok ya ada yang jualan mie ayam. Dari sekian banyak pemandangan yang ditemui, kebanyakan adalah penginapan berupa resort dan cafe-cafe bagi orang-orang yang menginap disana.

Selain yang mas Feb sebutkan diatas, mas Feb juga menjumpai sekumpulan pesepeda yang sepertinya memang sedang mengambil rute bersepedanya didaerah sini. Dugaan mas Feb, disepanjang jalan Ir. H. Djuanda ini merupakan rute rutin komunitas pesepeda setiap minggunya. Karena disepanjang jalan ini, hampir disetiap blok jalan terdapat pedagang spare part kelengkapan bersepeda yang menggelar dagangannya dipinggir jalan.
Arah Jalan Menuju Komplek Dago Resort

Komunitas Pesepeda yang Berhenti di Jalan Ir. H. Djuanda

Terminal Dago
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 45 menit, mas Feb pun sampai juga di terminal Dago. Kondisi terminal di pagi hari itu agak memprihatinkan. Banyak sampah bertebaran disana sini. Padahal itu baru jam 8.45 pagi tapi kok sampahnya sudah sebegitu banyak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi