Langsung ke konten utama

Jalan-Jalan Malam di Pasar Semawis, Semarang

Malam itu [12 November 2016] di kota Semarang mendung sedang menggelayut. Berulang kali bunyi gemuruh langit terdengar. Seolah pada malam itu air dari langit akan diturunkan sepanjang malam. Menelusuri jalan di kota Semarang ditingkahi dengan rasa was-was akan turunnya hujan, membuat langkah kaki berjalan agak cepat menyesuaikan keadaan. Maksud hati ingin wisata kuliner mencari salah satu makanan khas yang ngetop sejagat Semarang, apa daya ternyata Warung Asem-Asem Koh Liem yang dituju tutup! Lengkaplah sudah. 
Warung Jamu Jun di Pasar Semawis

Suasana Keramaian di Pasar Semawis
Karena sebutannya wisata, berjalan kaki sepanjang jalan Ahmad Yani menjadi opsi meskipun membuat kaki pegal plus basah. Bukan basah karena air hujan karena memang belum turun. Tapi basah karena banjir keringat. Alhasil, saya pun berjalan saja mengikuti peta digital yang ada di telepon genggam saya. Setiap sudut jalan saya teliti hingga akhirnya tanpa disengaja saya tiba disebuah tempat yang saya sama sekali tidak menduganya.

Salah Satu Sudut di Pasar Semawis yang Menyediakan Fasilitas Karaokean Lagu-Lagu Mandarin
Dengan tagline: "Pusat Jajan Semarangan", Pasar Semawis atau biasa disebut Waroeng Semawis merupakan sebuah pasar dadakan yang diadakan setiap Jumat-Sabtu-Minggu yang dimulai sejak pukul 18.00 hingga pukul 23.00. Asal muasalnya sih katanya dulu sebagai peringatan menjelang imlek, sehingga dibuatlah pasar malam yang diadakan selama 3 hari berturut-turut. Akhirnya lama kelamaan pasar malam digelar bukan cuma 3 hari menjelang imlek, tapi setiap 3 hari di akhir minggu.

Lalu sebenarnya ada apakah gerangan di Pasar Semawis yang terletak di sepanjang Gang Warung ini? Ya kebanyakan yang ditawarkan di pasar ini adalah kuliner khas pecinan dan semarangan. Semisal babat gongso, nasi ayam, es puter, nasi pindang, sate sapi, nasi goreng, pecel, sate kambing, sate babi. Apa? Ada sate babi? Iya. Makanya ketika saya disana, sebelum memesan makanan di sana lebih baik tanya dahulu apakah makanan yang dijual mengandung babi atau tidak.
Harus Sabar Berjalan Kaki Disini Karena Berjubel Pengunjung


Warung Sate Babi dan Sate Kambing

Selain makan dan minum, disini juga ada yang menawarkan jamu dengan resep kuno lho. Makanya gak heran, bukan cuma anak muda yang akhir pekan itu berjalan-jalan di pasar ini. Ada juga opa oma dan simbah-simbah yang mungkin sudah berlangganan minum jamu di salah satu warung disini. Sepertinya di Pasar Semawis ini semua hal yang berkaitan dengan pecinan ada. Mulai dari baju, pertunjukan, hingga makanan. Tapi sayangnya ketika saya disana, belum saya temukan semisal pertunjukan wayang potehi.

Di sepanjang jalan Gang Warung ini kita bisa melihat banyak berjejer meja-kursi yang memang disediakan untuk digunakan sebagai tempat menyantap makanan yang dipesan disana. Sedangkan warung-warung ataupun kedai makanan disana menggunakan tenda-tenda yang lumayan besar dengan bentuk yang hampir sama satu dengan lainnya.

Pengunjung Menikmati Gudeg
Bagi teman-teman yang akan mengunjungi Pasar Semawis ini, terutama yang membawa sepeda motor dapat diparkir di ujung jalan seperti di Gang Pinggir. Mayoritas pengunjung memang membawa kendaraan pribadi karena tidak ada angkutan umum yang menjangkau kawasan kuliner malam ini.

Sepanjang perjalanan di Gang Warung tersebut, tidak ada satupun jajanan yang saya coba cicipi. Ingin sih, tapi karena melihat tulisan sate babi di sebuah warung membuat saya mengurungkan niat untuk membeli jajanan dari Pasar Semawis ini. Alhasil, saya hanya menikmati suasana jalan-jalan dimalam hari. Lumayanlah sebagai pengobat kekecewaan karena tidak mendapatkan kuliner Asem-Asem Koh Liem. Hehehe.. 

Tips:
  1. Jika hanya ingin menikmati suasana malam di Pasar Semawis, pembaca siapkan untuk membawa bekal air minum yang cukup karena lumayan menguras cairan tubuh berjalan sepanjang pasar.
  2. Lebih baik jika datang ke Pasar Semawis setelah sholat Maghrib karena semakin malam keadaan pasar semakin padat.
  3. Waspada selalu dengan dompet dan tas. Namanya tempat ramai kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Lebih baik waspada tho?
  4. Bila akan membeli makanan tanyakan apakah mengandung babi atau tidak dan jangan sungkan untuk bertanya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi