Langsung ke konten utama

Belanja Oleh-Oleh di Wingko Babad Cap Kereta Api yang Melegenda


Buat pembaca yang lahir di tahun 80-90 an (atau mungkin sebelumnya), pasti pernah melihat dan mencicipi wingko yang satu ini. Penganan khas kota Semarang yang bercita rasa manis-gurih ini merupakan oleh-oleh yang biasanya menjadi bawaan buat sanak saudara ketika kita pulang dari kota Semarang. Wingko Babad Cap Kereta Api memang sudah sejak lama ada dan menjadi merek wingko babad yang cukup dikenal. Diperkenalkan pertama kali pada tahun 1946 oleh bapak Mulyono dan hingga kini masih bertahan dengan kekhasan cita rasanya.

Sebelum kembali ke Jakarta, di tanggal 14 November 2016 saya sempat mampir ke sebuah toko yang namanya sama dengan merk wingko, yaitu toko oleh-oleh Wingko Babad Cap Kereta Api. Dengan logo sebuah lokomotif, toko oleh-oleh ini memberikan kita suasana nostalgia jaman-jaman ketika Wingko Babad Cap Kereta Api masih menjadi satu-satunya wingko terkenal di kota Semarang.
Plang Toko Oleh-oleh Wingko Babad Cap Kereta Api

Halaman Parkirnya Lumayan
Ketika wingko dengan merek lainnya mulai bermunculan, Wingko Babad Cap Kereta Api sempat tenggelam tapi ia tetap bertahan. Bahkan saat wujud wingko menyesuaikan dengan harga yang mulai tinggi, wujud pionir wingko ini tetap dan tidak menyusut. Coba saja pembaca bandingkan dengan wingko merek lainnya yang harganya mahal tapi ukuran dalam satu bungkus tidak mampu untuk mengganjal perut. Sementara Wingko Cap Kereta Api, ukurannya dalam satu bungkus cukup mengenyangkan dan rasanya manis gurih yang tidak bakalan ditemukan di wingko merek lainnya.

Harganya Boleh dicek Dulu

Selain Wingko, Toko Ini juga Menjual Oleh-oleh Khas Kota Semarang Lainnya

Kekhasan lainnya atau boleh saya bilang keunikan dari Wingko Babad Cap Kereta Api adalah para pekerja di tokonya yang nggak bakalan kita temukan di toko lain. Bila toko oleh-oleh lainnya mempekerjakan staf yang masih muda-muda, lain halnya dengan di toko oleh-oleh Wingko Babad Cap Kereta Api. Toko yang berlokasi di jalan Cendrawasih nomor 14, kota Semarang ini mempekerjakan para ibu yang sudah terbilang tidak muda lagi. Soal keramahan? Nggak kalah sama yang muda. Malah ibu-ibu berseragam batik disini termasuknya sangat ramah dengan pengunjung. Sehingga pembeli pun tidak sungkan untuk bertanya.

Para Pekerja Adalah Para Ibu

Logo Wingko Babad Cap Kereta Api yang Pertama Kali

Oh iya, selain menjual wingko, toko oleh-oleh ini juga menawarkan penganan dan jajanan lainnya seperti rengginang, enting-enting, telur asap, dan lain-lain. Didalam toko juga disediakan meja dan kursi sehingga bagi pembeli yang ingin segera mencicipi setelah membeli bisa "ngaso" sembari ngemil wingko di kursi santai yang telah disediakan. Jangan khawatir dengan udara panas, didalam toko ini cukup adem karena menggunakan penyejuk udara. Jadi pengunjung juga nyaman saat memilih-milih oleh-oleh yang akan dibawa pulang.

Mari Mengantri di Kasir
Jadi, sudah tergerak dan tergoda untuk mampir di toko oleh-oleh Wingko Babad Cap Kereta Api? Yang penting siapkan dompet yang cukup tebal karena cita rasa penganan di toko oleh-oleh ini sebanding dengan harganya. Yang pasti gak akan kecewa dengan harga yang ditawarkan karena memang rasa, kemasan, dan keramahan yang diberikan sangat sepadan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi