Langsung ke konten utama

Yuk ke Museum Sumpah Pemuda!

Alih-alih pulang pasca kunjungan ke Museum MH Thamrin di Jalan Kenari, saya malah melanjutkan napak tilas perjuangan pemuda Indonesia ke Museum Sumpah Pemuda. Meski pada saat itu masih jauh dari bulan Oktober, saya pikir tak ada salahnya mengunjungi museum yang berlokasi di Jalan Kramat Raya No. 106 itu. Lagi pula, antara Museum MH Thamrin dengan Museum Sumpah Pemuda jaraknya relatif tidak terlalu jauh dan masih ada keterkaitan sejarah antara satu dengan lainnya.

Tampak Muka Gedung Museum Sumpah Pemuda

Menurut sejarah, gedung Museum Sumpah Pemuda pada awalnya merupakan rumah kediaman milik Sie Kong Liang. Waktu tahun pendiriannya belum jelas benar. Sejak tahun 1908, gedung ini digunakan sebagai tempat tinggal oleh para mahasiswa yang bersekolah Rechts Hooge School alias Sekolah Tinggi Hukum (yang sekarang menjadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia) dan mahasiswa Stovia (Sekolah Tinggi Kedokteran yang sekarang menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jadi, saya juga tidak menyangka bahwa gedung ini merupakan kos-kosan pada masa Hindia Belanda. Hehehe.


Diorama Kongres Pemuda di Tahun 1928

Tempat kos-kosan ini lambat laun menjadi ramai dan menjadi tempat berkumpul para pemuda Indonesia pada masa itu. Hingga pada tahun 1928 diadakan kongres pemuda dan kemudian menelurkan keputusan untuk persatuan Indonesia yang kita kenal sekarang sebagai Sumpah Pemuda. Pada tahun 1934, banyak pemuda yang sebelumnya tinggal disini mulai meninggalkan gedung bersejarah ini karena sudah lulus. Sehingga pada tahun itu gedung disewakan kepada Pang Tjem Jam. Gedung ini pernah juga menjadi toko bunga sejak tahun 1937 hingga 1948. Lalu pada akhirnya ditetapkan menjadi Museum Sumpah Pemuda pada tahun 1973 dan diresmikan oleh Ali Sadikin selaku Gubernur DKI pada masa itu.

Berbeda nasib dengan Museum MH Thamrin, Museum Sumpah Pemuda menurut saya karena berada persis di pinggir Jalan Kramat Raya sehingga orang lalu-lalang dapat melihat gedung ini. Selain itu, gedung ini juga terbilang sudah menerapkan teknologi dalam membantu menarik minat pengunjung. Contohnya saja didalam Museum Sumpah Pemuda sudah menggunakan aplikasi berbasis Android bernama aplikasi SIJI. Dengan menggunakan aplikasi yang bisa diunduh dari Google Play Store ini, pengunjung bisa melihat poster-poster yang dipajang didalam ruang pamer menjadi hidup layaknya film animasi. Pengunjung juga bisa mendengarkan lagu Indonesia Raya versi tempo cepat juga dengan memanfaatkan aplikasi SIJI.

Isi Daftar Hadir Dahulu Sebelum Masuk Museum

Contoh Poster yang Bisa Beranimasi Menggunakan Aplikasi SiJi

Aplikasi SiJi sebagai Penarik Minat Pengunjung

Salah Satu Sudut di Ruangan Pengenalan

Galeri Sejarah Penggubah Lagu Indonesia Raya: Wage Rudolph Supratman

Galeri Pertumbuhan Organisasi Pemuda

Taman Pemuda yang Terletak di Halaman Tengah Museum

Ruang-Ruang di Museum Sumpah Pemuda

Salah Satu Sudut Photo Booth yang Bisa Digunakan Untuk Berfoto Narsis

Salah Satu Bagian dari Ruangan Kepanduan

Relief Perjuangan Para Pemuda Indonesia

Karena gedung museum ini relatif tidak terlalu luas, kita tidak butuh waktu lama untuk menyambangi seluruh ruang pamer yang terdiri dari 8 ruangan. Delapan ruangan tersebut yaitu:
  1. Ruang Pengenalan
  2. Ruang Pertumbuhan Organisasi
  3. Ruang Kongres Pemuda I
  4. Ruang Kongres Pemuda II
  5. Ruang Kepanduan
  6. Ruang IM dan PPPI
  7. Ruang Indonesia Raya
  8. Ruang Perenungan
Kebanyakan dari koleksi Museum Sumpah Pemuda adalah berupa diorama sekitar peristiwa Sumpah Pemuda dan tokoh-tokoh yang terlibat didalamnya. Saat saya disana, ada sekitar 10 orang pengunjung yang bervariasi dari siswa hingga rombongan keluarga. Hal ini juga yang membedakannya dengan Museum MH Thamrin. Tapi bila saya boleh memilih, saya lebih merasa nyaman berada di Museum MH Thamrin. Kenapa? Karena suasananya lebih tenang dan halamannya lebih sejuk daripada di Museum Sumpah Pemuda.

Bagi pembaca yang ingin berkunjung ke Museum Sumpah Pemuda bisa menggunakan kendaraan umum seperti bus Transjakarta, bus patas (Mayasari Bhakti), Metromini, hingga angkutan minibus-Mikrolet. Untuk Transjakarta, bisa menggunakan yang jurusan PGC-Ancol, berhenti di halte Pal Putih. Bagi yang menggunakan angkutan bus patas bisa menggunakan MayasariBhakti jurusan Bekasi-Pasar Senen, turun didepan museum persis. Sementara itu bila menggunakan Metromini ada Metromini 17 dan 15 yang lewat didepan museum.

Museum Sumpah Pemuda bisa dikunjungi setiap hari Selasa sampai dengan hari Ahad mulai pukul 08.00 hingga pukul 16.00 wib. Tiketnya juga cukup murah kok. Cuma Rp. 2.ooo saja buat yang dewasa, Rp. 1.ooo untuk anak-anak, dan Rp. 10.ooo untuk turis mancanegara. Jadi, demi lestari museum kita yuk kunjungi Museum Sumpah Pemuda, salah satu museum diantara banyak museum di Indonesia. Mari jalan-jalan ke museum!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi