Langsung ke konten utama

Tak Sengaja Naik KA Priority Seat (2)

Berbekal tiket seharga seperempat juta, saya bersegera menuju peron di mana kereta api yang akan mengantarkan saya kembali ke Jakarta telah bersiap. Oleh karena saya baru pertama kali akan mempergunakan KAWisata, saya pun agak bingung dengan posisi keretanya. Daripada habis tenaga untuk menyisir satu persatu kereta, saya pun bertanya ke petugas yang menjaga jalur 1 stasiun.

KA Priority Seat (Copyright: Febri Aryanto)

Saya     : "Maaf pak, mau bertanya. Ini saya menggunakan tiket KA priority seat untuk KA Argo Parahyangan jam enambelas lebih sepuluh menit. Untuk posisi keretanya ada di mana ya pak?"
Petugas : "Oh, keretanya sudah tersedia di jalur enam pak. Nanti bapak langsung ke gerbong paling belakang saja. KAWisata ada di gerbong paling belakang yang berwarna coklat tua."
Saya      : (Agak terperangah) "Oh..! Paling belakang ya pak?"
Petugas : "Iya pak." (Sambil tersenyum)
Saya      : "Baik pak. Terima kasih banyak ya.."


Kemudian saya melanjutkan dengan mengikuti petunjuk dari petugas tersebut. Memang benar ternyata gerbong prioritas seharga Rp. 250 ribu tersebut berada di rangkaian paling belakang. Sekejap saya juga agak terkejut. Ternyata ukuran rangkaiannya cukup pendek. Ada mungkin panjangnya hanya setengah dari rangkaian gerbong biasa. 

Bagian Interior KA Priority Seat (Copyright: Febri Aryanto)

Begitu memasuki gerbongnya, saya hitung kapasitas kursi yang tersedia hanya 28 kursi saja, berbanjar di kanan kiri gang. Kursinya dari berbahan seperti jok mobil berbahan kulit berwarna krem cerah. Saya mendapatkan kursi di sebelah gang di urutan ketiga dari depan. Rupanya KA ini laris juga karena seluruh kursi sudah terisi dengan penumpang yang akan ke Jakarta. Sekilas tiada beda dengan KA argo lainnya seperti Argo Anggrek dan kereta kelas ekskutif lainnya. Perbedaan hanya pada masing-masing kursi terdapat layar TV ukuran sekitar 8 sentimeter, yang cukup kecil buat saya. Ya mirip-mirip dengan di pesawat. Bahkan kompartemen bagasi yang terletak di atas pun menyerupai yang ada di pesawat, bisa dibuka-tutup. 

Kompartemen Bagasi yang Mirip dengan di Pesawat (Copyright: Febri Aryanto)


Fitur Hiburan: Layar TV di Masing-Masing Kursi Penumpang (Copyright: Febri Aryanto)

Perbedaan lainnya adalah pemberian makanan ringan. Sesaat setelah kereta berangkat, terdengar pengumuman selamat datang bagi penumpang dan bla bla bla perkenalan mengenai kereta yang dinaiki. Kemudian setiap kursi mendapatkan jatah makanan ringan, persis di pesawat Garuda. Isi snacknya ada roti 2 buah, heavenly blush, permen 2 buah, dan air minum dalam kemasan botol 330 ml serta tisu basah. Hal lainnya mengenai fitur KA priority seat ini boleh dibilang sama dengan KA kelas eksekutif lainnya. Ada colokan untuk charge hape, lampu penerangan bagi yang ingin membaca, sandaran kaki, dan sandaran kursi yang bisa digeser-geser. 

Box Snacknya Cakep Luar Biasa (Copyright: Febri Aryanto)

Isi dari Box Snack yang Menemani Perjalanan (Copyright: Febri Aryanto)

Menu di Layar TV Masing-Masing Kursi Penumpang (Copyright: Febri Aryanto)

Kabel yang Terlihat Keluar (Copyright: Febri Aryanto)

Oh iya, meskipun setiap kursi dilengkapi dengan layar televisi sendiri-sendiri yang terletak di belakang jok penumpang yang berada di depannya, opsi tontonan yang dapat dimainkan hanya beberapa saja. Hampir seluruh menu hanya kosongan saja. Jadi mubazir ada layar tv tapi tidak ada yang bisa ditonton. Selain itu, pengaturan kabel-kabel yang terhubung ke tv kecil itu juga kurang rapi. Tapi bagi saya yang utama adalah bisa kembali ke Jakarta tidak terlalu malam. Toh saya juga tertidur selama perjalanan 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi