Langsung ke konten utama

Perubahan dan Garis Waktu

Tidak terasa, tahun baru sudah tiba lagi! Rasanya seperti baru kemarin kita merayakan tahun 2024, dan di sini kita sudah di tahun 2025. Mimpi-mimpi yang masih mengendap di kepala, belum semua terwujud. Tapi ya, mau bagaimana lagi? Kita harus terus berusaha dan berkejaran dengan waktu.


Garis Waktu


Tahun 2025, apa yang berbeda? Menurut saya, yang berbeda hanya angka di kalender. Betul, kan? Hehehe. Tahun baru itu, kata orang, adalah momen untuk refleksi. Tapi bagi saya, hitungan tahun hanyalah acuan, semacam garis waktu untuk peristiwa-peristiwa yang terjadi. Segala sesuatu terus berjalan, ada yang bertambah, berkurang, surut, dan pasang. Mungkin bahasan ini terdengar berat, atau mungkin biasa saja?


Menginjak usia kepala empat itu bukan hal sepele. Banyak yang berubah, mulai dari emosi, jiwa, pemikiran, hingga fisik. Dulu, saat masih di usia dua puluhan, rasanya semua harus dilakukan dengan cepat. Sekarang, meski tuntutan untuk bergerak cepat masih ada, ada banyak perbedaan. Misalnya, pekerjaan tertentu memang harus selesai sebelum deadline, tapi sekarang saya lebih suka merencanakan semuanya. Saya mulai mengerjakan tugas-tugas sejak awal, jadi tidak terburu-buru saat tenggat waktu tiba.


Jujur saja, saya ini tipe orang yang gampang teralihkan fokusnya. Dulu, saya sering mengandalkan sistem SKS alias "sistem kebut semalam". Ilmu Bandung Bondowoso masih jadi andalan saya (dan kadang masih dipakai juga, sih). Sekarang, saya lebih suka membuat garis waktu untuk satu atau beberapa pekerjaan. Fokus saya kini adalah perjalanan waktu pengerjaannya dan hasil dari setiap proses yang saya jalani.


Dosen saya pernah memberi ceramah yang sangat berkesan: 

jika satu pekerjaan besar terasa sulit, pecahlah menjadi tugas-tugas kecil. Bayangkan saja butir-butir kopi Nescafe Classic yang granular dan mudah hancur. Jika tugas-tugas kecil itu masih terasa berat, pecah lagi menjadi pekerjaan mikro. Lakukan terus hingga kita menemukan hasil dari pekerjaan yang sudah kita bagi-bagi.


Jadi, apa target Anda di tahun 2025? Jangan menyerah dan tetap semangat, meskipun jalan ke depan terasa berat. Ayo, kita jalani bersama!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi