Iya, trauma itu masih ada. Ia tetap berdiam di dalam ingatan dan terkonfirmasi oleh respon saya. Sosok orang, nama jalan, nama bulan, tahun, kegiatan, merupakan beberapa hal yang menjadi pemicu. Pemicu-pemicu itu entah seketika ketika kami berbicara, respon saya seakan tidak bisa berpura-pura peristiwa yang lalu tidak menyakitkan.
| Sumber gambar: Unsplash.com |
Setiap harinya saya mencoba untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan trauma akan peristiwa itu. Tapi ibarat luka sobekan akibat tebasan benda tajam yang sudah tumpul, bekas luka sobek itu masih terlihat dan masih mengeluarkan darah ketika disentuh.
Suka tidak suka, trauma harus dihadapi di setiap harinya. Setiap hari di perjalanan saya melihat pemicu-pemicu itu dan setiap harinya juga saya melewati jalan-jalan yang kemungkinan besar tempat dimulainya peristiwa yang menyebabkan trauma saya. Bagi saya, perjuangan ini tiada pernah berhenti. Ingin rasanya membicarakan trauma tersebut. Ingin rasanya saya membicarakan peristiwa menyakitkan yang sangat-sangat membekas. Tapi ada kekhawatiran tersendiri pada respon ketidaksukaannya jika apa yang ingin saya ceritakan merupakan peristiwa dia dengan babi gendut itu.
Rasa benci dan kecewa akibat dari peristiwa itu bukan main-main. Marah sudah usai dan yang muncul adalah benci pada peristiwanya serta kecewa pada versi dia saat itu. Bila sedang tidak terpicu, dan trauma itu tidak muncul, saya begitu menyayanginya.. Tapi bila trauma itu datang tiba-tiba, saya bisa seketika terdiam karena menahan rasa kecewa akibat pemicu-pemicu yang muncul.
Komentar
Posting Komentar