Langsung ke konten utama

Trauma itu Masih Ada

Iya, trauma itu masih ada. Ia tetap berdiam di dalam ingatan dan terkonfirmasi oleh respon saya. Sosok orang, nama jalan, nama bulan, tahun, kegiatan, merupakan beberapa hal yang menjadi pemicu. Pemicu-pemicu itu entah seketika ketika kami berbicara, respon saya seakan tidak bisa berpura-pura peristiwa yang lalu tidak menyakitkan. 

Sumber gambar: Unsplash.com

Setiap harinya saya mencoba untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan trauma akan peristiwa itu. Tapi ibarat luka sobekan akibat tebasan benda tajam yang sudah tumpul, bekas luka sobek itu masih terlihat dan masih mengeluarkan darah ketika disentuh. 

Suka tidak suka, trauma harus dihadapi di setiap harinya. Setiap hari di perjalanan saya melihat pemicu-pemicu itu dan setiap harinya juga saya melewati jalan-jalan yang kemungkinan besar tempat dimulainya peristiwa yang menyebabkan trauma saya. Bagi saya, perjuangan ini tiada pernah berhenti. Ingin rasanya membicarakan trauma tersebut. Ingin rasanya saya membicarakan peristiwa menyakitkan yang sangat-sangat membekas. Tapi ada kekhawatiran tersendiri pada respon ketidaksukaannya jika apa yang ingin saya ceritakan merupakan peristiwa dia dengan babi gendut itu. 

Rasa benci dan kecewa akibat dari peristiwa itu bukan main-main. Marah sudah usai dan yang muncul adalah benci pada peristiwanya serta kecewa pada versi dia saat itu. Bila sedang tidak terpicu, dan trauma itu tidak muncul, saya begitu menyayanginya.. Tapi bila trauma itu datang tiba-tiba, saya bisa seketika terdiam karena menahan rasa kecewa akibat pemicu-pemicu yang muncul. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi