Langsung ke konten utama

PP Bukan Pergi-Pulang Tapi Privasi Pribadi

Hari raya itu tentang silaturahim ke keluarga dan kerabat. Masalahnya, saya tipikal orang yang terlalu malas untuk berbasa basi. Jujur saja, hal yang paling malas saya lakukan adalah "berbising ria" untuk ngobrol-ngobrol dengan orang maupun kelompok orang. Sekali-dua kali mungkin masih tidak masalah dan tema yang dibahas memang saya suka. Tapi ketika hal tersebut dilakukan berulang-ulang dan bertubi-tubi, "baterai" saya akan langsung turun.

Meskipun hari raya masih beberapa minggu lagi (tulisan ini saya mulai ketik saat bulan Ramadhan), beberapa hal sudah terbayang. Seakan-akan saya seperti Nostradamus, clairvoyance  alias cenayang yang ngetop di abad pertengahan dengan segala visinya tentang kejadian di masa depan (meskipun menggunakan cocok-logi). Pagi setelah sholat hari raya, biasanya masih aman-aman saja karena saya memilih untuk ngadem dan menurunkan ritme dengan pulang dari masjid untuk kemudian menyantap masakan khas hari raya. Setelah makan, masih bisa santai-santai untuk sekedar mengecek telepon genggam pintar. Fase berikutnya adalah dimulainya segala bentuk kebisingan dan ketegangannya karena biasanya mulai terdengar suara salam dari balik pintu rumah dan mulai berdatangan lah para tamu yang bagi para introvert hanya bisa memekik dalam hati "oh nooo!".

Sekitar jam 9-an, baterai saya akan mulai dipergunakan secara brutal. Berbasa-basi menanggapi sekedar omongan receh penyambung resonansi di ruang tamu. Jika ada orang lain yang bisa saya "tumbalkan" untuk menghadapi para tamu, akan lebih baik sehingga saya bisa menyingkir ke dapur atau ke kamar. Basa-basi yang kadang penuh dengan kernyitan di dahi akan berlangsung selama seharian hingga (mungkin terjadi) malam. 

Kira-kira seperti itulah ketika hari raya tiba. Bukan saya tidak bergembira akan datangnya, tapi memang makhluk semacam saya butuhnya PP. Bukan Pergi-Pulang, tapi Privasi Pribadi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Singkat Tentang Pool DAMRI Kemayoran

Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia , disingkat DAMRI, merupakan angkutan yang jadi andalan bagi saya ketika harus pergi ke Bandara. Kebetulan tempat tinggal saya di Kemayoran yang tidak jauh dari salah satu pool bus milik pemerintah ini. Letak dari pool Damri Kemayoran ini berada di jalan Angkasa nomor 17, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi selama saya bolak balik daerah sana sih, orang lebih kenal pool Damri Kemayoran di jalan Kran Raya. Kalau dari perempatan jalan Garuda, cukup jalan kaki sekitar 50 meter.

Keliling Jogja Jangan Mau Pakai Jasa 'Guide Keraton'

Jogjakarta, 13 Oktober 2012 - Setelah lelah dan jengah bekerja selama empat hari berturut-turut dari pagi hingga malam, dihari ke lima kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan kantor dan menjelajah kota Jogja berdua saja. Karena tidak ingin lelah sebelum "berpetualang" di spot-spot tujuan wisata, kami sepakat untuk menyewa kendaraan berbahan bakar rumput. Yup! Kami naik andong dari depan hotel Inna Garuda dan membayar sebesar Rp. 25.ooo rupiah untuk rute dari Malioboro hingga Keraton Jogja. Memakan waktu kurang lebih seperempat jam, kami tiba disana sekitar pukul 10 waktu setempat. Karena baru pertama kesana, kami pun sedikit bingung mencari loket untuk membeli tiket masuk. Suasana ketika itu agak ramai. Naik Andong dari Malioboro

Obrolan Receh

Setiap kali berangkat atau pulang, saya dan anak-anak hampir selalu sempat mengobrol, meskipun tidak mendalam. Saya menyebutnya sebagai “obrolan receh” karena hampir semua yang kami bahas adalah hal-hal random dari hari itu: kadang terpicu oleh kegiatan yang baru saja kami alami, kadang muncul begitu saja karena melihat sesuatu di jalan. Obrolan-obrolan sepele itu justru sering menjadi cara kami memproses hari yang baru saja lewat agar tetap dekat. Foto koleksi pribadi